senin, 15 januari 2007

 

CIBODAS WITH LIPI

Minggu ini gue jalan2 ke Cibodas bareng rekan2 dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Bukan jalan2 sih, tapi hadir sebagai sharing partner (istilahnya terlalu norak nggak ya?) dalam acara rapat kerja mereka yang berlangsung tiga hari terhitung 10 Januari 2007. Yang ngundang gue adalah Mas Dauri, salah satu rekan chatting di YM yang selama dua tahun ini belum pernah ketemu gue.


Gue tiba di wisma yang ditempati rekan2 dari LIPI hari Kamis sore. Kebetulan acara RAKER udah kelar, jadi gue istirahat sebentar sebelum akhirnya acara makan malam dan malam keakraban tiba. Disitulah gue diberi waktu untuk sharing pengalaman gue...



Seperti biasa, gue menceritakan pengalaman gue sebagai tunanetra, bagaimana gue mengoperasikan komputer, dll. Intinya adalah bagaimana caranya lewat sharing time itu gue berbagi semangat untuk memotivasi diri. Itu sih yang sebenarnya diinginkan Mas Dauri, bukan menghadirkan trainer yang bakal memberi materi yang bikin pusing kepala, hehehe!

Acara selanjutnya adalah nyanyi dan joget bersama. Gue sih nggak ikutan, (alasannya sih malu sama umur) dan lebih memilih duduk santai deket api unggun sambil makan ubi, nyam nyam!

Selain Mas Dauri sendiri, gue juga ngobrol2 sama rekan2 yang lain. Ada Bu Fitri, Mbak Ima, para "Mas" dan "Bapak" yang rata2 rame dan bersemangat, dan nggak ketinggalan ponsel gue yang selalu ngoceh bacain SMS gue... *smile*



Hari Jumat-nya kita jalan2 ke air terjun. Habis itu rekan2 ada acara games, tapi berhubung gue semaleman nggak bisa tidur gara2 tidur di kasur udara Mas Dauri yang dingin laksana balok es, akhirnya gue lebih memilih secangkir teh hangat yang menghantar gue pergi ke dunia mimpi di atas kursi panjang yang empuk... Zzzz...zzzz...zzzz!



So, another great journey everyone...! Salam kenal buat rekan2 di LIPI Gatot Subroto...!

Rama Says: 07:09 WIB

rabu, 10 januari 2007

 

ganti ponsel

Kebetulan lagi ada sedikit rejeki, jadi awal tahun ini gue ganti ponsel. But...hey, wait a sec! Gue nggak beli ponsel baru tipe terkini yang harganya nyekek kantong kok! Gue cuma beli ponsel second hand Nokia 6600 dari seseorang.

So, kenapa sih gue pilih ponsel itu? Karena Nokia 6600 tergolong ponsel Simbian yang bisa dipasangi pembaca layar. Sebenarnya ponsel Simbian lain juga bisa, tapi kebetulan ada tawaran 6600 yang lumayan murah. Lalu, apa yang terjadi dengan kegiatan ponsel memonsel gue?

- Sekarang gue udah bisa akses ponsel sendiri karena semua menu dan teksnya dibacakan, jadi gue bisa melakukan konfigurasi telepon sendiri tanpa ngerepotin orang lain, hore!

- Sekarang gue udah bisa baca/kirim SMS sendiri (wah, bisa selingkuhan tanpa ketahuan dong) jadi nggak perlu merepotkan orang kalo gue setiap kali harus minta bacain SMS yang ternyata isinya pendek2, atau gue yang telat info gara2 nggak ada yang bacain SMS gue.

- Tentu saja gue jadi lebih responsif, dan akhirnya -- setelah 3 tahun punya ponsel -- bisa menggunakannya seperti orang melek pakai ponsel. SMS-an pakai satu tangan sambil tiduran makan coklat, "siapa takut!?"
 

Rama Says: 02:17 WIB

sabtu, 6 januari 2007

 

bencana landa indonesia, aurora berkomentar

Well, ini yang gue rasain di penghujung 2006. Mungkin hal ini juga dirasain oleh banyak orang. Pastinya sih tidak enak...!

Nggak habis2nya bencana yang menimpa negeri kita ini. Kapal tenggelam, pesawat jatuh, banjir pun ikut menggasak bumi tercinta kita. Gue rasa ini salah satu musibah terbesar yang pernah terjadi di negeri ini.

Masalah lainnya adalah matinya koneksi internet Asia yang pengaruhnya tentu saja sampai ke Indonesia. Lebih dari seminggu internet lumpuh, cuma bisa dipakai akses situs lokal aja. Gue rasa gue nggak perlu cerita apa yang terjadi dengan gue tanpa adanya koneksi internet itu. Lebih jauh lagi, hal ini tentu merugikan bisnis Asia yang notabene menggunakan jalur online sebagai medianya. Lagi2, karena Tuhan sedikit "menggoyang" bumi dan laut Taiwan, sedikit saja goyangan itu bisa meluluhlantakkan koneksi internet selama seminggu, koneksi internet yang dibangun dengan susah payah dan dielu-elukan oleh manusia.

So, dari dua hal satu sumber itu (terbangnya ribuan nyawa dan lumpuhnya internet yang disebabkan bencana maksudnya), kita bisa menambahkan lagi daftar bukti betapa kekuasaan Allah sangatlah besar. Kita betul2 dibuat tidak berarti di hadapannya. Sehebat apapun, kita masih tetap kalah oleh alam yang digerakkan Allah.

Mungkin, atau gue pastikan, itu ada hubungannya dengan umat sejagad yang sudah kian jadi pendosa. But then again, perhaps, or maybe the fact, is that I am one of them...

"Ya Allah, apabila diriku ini bermohon padamu dan memanjatkan do'a, apakah akan dapat membantu menghentikan semua itu...?"

Rama Says: 16:52 WIB