senin, 28 agustus 2007
YUZO KOSHIRO BEST COLLECTION VOL. 2
Title: Yuzo Koshiro Best Collection vol. 2
Composer: Yuzo Koshiro, Motohiro Kawashima
Publisher: Five Records
Catalog Number: VGCD-0081
Release Date: August 10th, 2007
Price: ¥3,150
Disc: 3
Featuring: The Super Shinobi, SOR1, SOR2, SOR3
Link: http://5pb.jp/records/
Udah lama gue nggak ngereview album musik game tahun ini, dan
setelah melewati paruh tahun 2007, kayaknya gue udah nemuin
album musik terfavorit gue tahun ini. Beberapa dari kalian --
yang juga pecinta musik game -- mungkin menduga kalau posisi itu
bakal diduduki album Trusty Bell Original Score gubahan Motoi
Sakuraba yang megah dengan nuansa orkestranya. Yap, itu memang
benar, tapi waktu album Yuzo Koshiro Best Collection Vol. 2 ini
rilis, Trusty Bell jatuh ke peringkat 1,5 (hehehe, tipis ya?).
So, siapa sih Yuzo Koshiro? Tukang gado2 atau tukang bakso?
Bukan, doski adalah salah satu komposer musik game legendaris
yang sudah mulai karirnya sejak era 80-an. Dulu dia bikin musik
untuk game2 klasik, yang game dan musiknya masih katrok alias
kuno abis. Dia jago banget menempatkan melodi, dan dia punya
beberapa gaya musik; disco, funky, dan orkestra.
Nah, kang Yuzo Koshiro ini pernah memberikan kontribusi yang
besar pada perusahaan game SEGA. Beberapa masterpiece karya2nya
ada di game Shinobi dan Streets of Rage/Bare Knuckle (permainan
berantem yang terkenal banget era 90-an).
OK, so album Yuzo Koshiro Best Collection Vol. 2 ini berisi 3 CD
yang memuat 4 album masterpiece Koshiro yang dulu udah dirilis;
Shinobi, Streets of Rage 1, 2, dan 3. Keempat album ini
mengalami peningkatan efek suara dan teknik rekaman, sedangkan
musiknya nggak dirubah sama sekali.
Sebelumnya emang udah dirilis volume 1, tapi isinya musik2
Koshiro yang nggak gitu familier di telinga gue. Sedangkan untuk
keempat game yang ada di volume 2 ini adalah "PACAR" gue di masa
kecil, alias game2 yang paling setia nemenin gue nongkrong di
mesin game Sega Genesis 16-Bit bareng adik or temen2 gue.
Shinobi sendiri adalah game aksi petualangan ninja yang punya
berbagai ilmu sakti. Musiknya seru, ada sentuhan irama funky
yang dipadu dengan disco dan jazz ringan. Di musik2 awal game
ini, Koshiro juga memberi sentuhan gaya musik ala Ninja, tapi
tetap kedengaran ear-catching di telinga. Waktu dengerin bagian
ini sambil jalan di trotoar atau naik busway, gue seperti jadi
Shinobi yang lagi bertualang di kota Tokyo...hehehe, Shinobi
Betawi kali yee!!!
Setelah lagu2 dari Shinobi habis, di pertengahan disc pertama
kita bisa menikmati musik2 dari Streets of Rage 1. Album inilah
yang barangkali untuk pertama kalinya bikin gamer2 Amrik
ngelirik musik2 Koshiro, karena di tahun 1991 waktu game ini
dirilis, mereka (gamer Amrik-red) disuguhkan musik disco yang
enerjik dan punya sentuhan funky dan jazz, gaya musik disco yang
lagi populer era itu. Nggak heran deh kalau permainan aksi
berantem itu jadi populer, nggak cuma karena gamenya, tapi
karena musiknya. Memang nggak banyak track yang gue suka dari
seri ini, karena memang instrumentasinya masih terbatas. Tapi
favorit gue adalah musik pengiring stage 1 (Fighting in the
Street).
Disc kedua berisi musik2 dari seri kedua Streets of Rage. Sukses
dengan SOR1, dan waktu SEGA menemukan teknologi untuk
memperbesar kapasitas memori gamenya, Koshiro pun kebagian lebih
banyak memori untuk bisa menghasilkan musik yang lebih bagus.
Hasilnya, album SOR2 dinyatakan sebagai yang terbaik di antara
seri2 yang lain. Masih dengan gaya musik yang sama dengan SOR1,
hanya lebih melodius dan lebih gaul. Bahkan kalau kita nggak
mainin gamenya dan cuma memutar musik2nya di CD Player, kita
bisa menikmati musik2 disco yang berkualitas. Tentu saja dengan
instrumentasi Sega Genesis 16-Bit loh yah! Hampir semua track di
album ini gue suka, so susah untuk gue menentukan mana track
favorit gue. Gue rekomendasikan disc kedua ini untuk didengarkan,
atau kalau kalian menemukan album Streets of Rage 2 yang dulu
sudah dirilis.
Suka album SOR1/SOR2 dan berharap banyak untuk SOR3? Hmmm,
kayaknya kalian bakal kecewa deh. Pasalnya album ketiga SOR ini
menurut gue adalah yang paling hancur. Musik2nya terkesan cuma
jadi pengiring game aja, dan instrumentasinya kasar. Kayaknya
Koshiro-san nyoba bereksperimen dengan efek2 suara yang aneh2
dan nggak jelas. Alhasil banyak musik2 nggak jelas juga. Tapi
beberapa musik masih enak didengar, dan musik favorit gue adalah
musik waktu kita berantem di diskotek (Disco), musik waktu
melawan boss (Boss), dan musik penutup yang happy ending
(Ending). Mengingat gue pengagum Koshiro, gue okay okay aja sama
album ini, apalagi karena kualitas efek dan rekamannya lebih
baik daripada album single SOR3 yang dulu pernah dirilis. Selain
itu, track2 yang nggak terpakai di gamenya juga dimasukkan di
disc ketiga ini. Sayangnya, urutan tracklistnya nggak urut (musik
pembuka, memilih karakter, level 1, 2, dan seterusnya tersusun
acak).
Secara keseluruhan, gue -- selaku pecinta musik game terutama
musik game klasik -- memberi penilaian 8.7 untuk album ini.
Penilaian gue jatuh 1 skor karena SOR3, dan 0.3 karena
instrumentasi SOR1 yang masih terbatas. Selebihnya, gue suka!!!
So, kalau kalian pecinta game2 Sega jaman dulu yang pernah dan
suka mainin Shinobi dan seri Streets of Rage, Yuzo Koshiro Best
Collection Vol. 2 bakal jadi koleksi yang sip banget. Buat
Koshiro mania, silahkan cek volume pertamanya juga...!
jum'at, 24 agustus 2007
journey of no joke (part1)
Bulan Agustus ini betul2 jadi bulan di mana gue sama sekali
nggak ada di rumah. Sebulan ini gue memutuskan untuk pergi
mengembara, refreshing ke tempat-tempat yang sudah lama kepingin
gue datengin. So, ini bagian pertama dari perjalanan gue...!
Oh ya, kenapa sih judul artikelnya "Journey of No Joke?" Karena
perjalanan ini gue lakukan sendiri (tunanetra-red), dan ini
bukan joke!
Di awal Agustus, gue memutuskan untuk mengunjungi salah satu
sahabat gue, Wiwien alias Hermy. Si mbak yang satu ini tinggal
di Palembang, dan mungkin dia alasan satu2nya yang bikin gue
"feel Okay" untuk kembali ke kota yang pernah membawa kenangan
di masa lalu gue (baca: Karima - To Be With You di halaman depan).
Seperti biasa, untuk membuat petualangan tambah nantang, gue
naik bus (ngecer) dari terminal Pulogadung dan turun di
pelabuhan Merak. dari situ berlayar ke Sumatera dan lanjut lagi
naik bus ke daerah Rajabasa. Selebihnya gue naik mobil travel (bukan
travel murni sih, melainkan mobil pribadi berbayar yang melayani
trayek Palembang) dan sampai juga di daerah Kertapati, Palembang.
Perjalanan dimulai jam 7 malam dan gue sampai Palembang kira2
jam 12 siang besoknya, jadi sekitar 17 jam deh!
Setibanya di Palembang, gue naik bus Pusri selama setengah jam.
Selama di perjalanan, gue dihibur dengan musik "ajep-ajep" yang
non-stop dipasang si sopir (cuma berhenti kalo ada pengamen yang
nyanyi). Menurut instruksi Hermy, gue kudu turun di daerah yang
namanya Lemabang, jadi turunlah gue di tempat yang disuruh.
Setelah turun, gue naik ke angkot yang mirip bemo, yang katanya
akan membawa gue ke daerah rumah Hermy. So, gue nunggu sekitar 1
jam sampai angkot itu penuh dan mulai berjalan perlahan-lahan (baca:
miring kanan miring kiri karena jalannya agak rusak).
Karena kecapaian, gue memutuskan untuk bersandar dan nunggu
sampai akhir trayek, karena menurut Hermy lagi, gue harus ikut
mobil itu sampai ujung (tempat terakhir yang dituju si angkot).
Namun, keanehan mulai gue rasakan. Selama perjalanan, kok
penumpang dengan santainya naik turun dan diam seribu bahasa,
padahal kalau di Jakarta sini paling nggak mereka bilang "stop"
atau "kiri bang" kalau mau berhenti. Tapi gue cuekin aja, pun
gue lagi ngantuk berat siang itu. Alhasil, gue bukannya sampai
tujuan, malah balik lagi ke tempat semula gue naik! "Lho, kenapa
ikut lagi? Kenapa nggak pencet bel waktu mau turun?" Si sopir
dengan tenangnya bertanya (dan gue sadar kalau ternyata bel yang
jadi alat komunikasi antar penumpang dan sopir, makanya mereka
diem2an sepanjang perjalanan). "Wah saya ketiduran bang," jawab
gue sambil senyum2 muka tembok...! Sudah malu, gue tambah malu
lagi karena di perjalanan, si manis Ririen adiknya Hermy telepon
gue dan nanya dimana gue (mau ngejemput), dan dengan percaya
dirinya gue bilang, "sebentar lagi sampai!"
Untung Hermy sempat SMS alamatnya sebelum ponsel gue mati
kehabisan energi. Jadi gue bisa naik ojek dari Lemabang ke rumah
Hermy (begonya gue, kenapa nggak naik ojek aja dari awal kalo
tau jaraknya deket gitu!?).
Akhirnya gue sampai juga di rumah Hermy dan langsung disambut
ortunya yang ramah. Karena Hermy belum pulang kerja, jadi gue
ditemenin Ririen adiknya yang sudah pulang duluan. Setelah
ngobrol sebentar, gue pun mandi dan makan lalu ketiduran di
ruang santai rumahnya sampai si mbak Wiwien Waluya akhirnya
sampai juga di rumah.
Dua hari di rumah Wiwien, kita ngobrol panjang lebar,
menghabiskan waktu bareng2 karena memang sejak sahabatan tahun
2004 lalu kita nggak pernah ketemuan. Dari mulai candaan sampai
hal yang paling serius, dari mulai makan Chitato sampai Empek2,
semua gue jajalin! Pokoknya kesampaian deh cita2 gue untuk
ketemu sama sahabat jauh gue yang satu ini!
Setelah dua hari disana, akhirnya gue pun harus pulang. Special
thanks goes to Hermy, Ririen, and her family for bringing me
good times during my journey! Silahkan mampir ke blog pribadi
Hermy untuk lihat cerita versinya dan foto kita berdua...!
http://www.blogwiwien.blogspot.com
Perjalanan selanjutnya adalah menuju kota Bandung. Di sana gue
mampir ke SLB/A Wyataguna, di mana banyak temen2 tunanetra gue
yang berasrama disana. Seperti biasa kita ngobrol dan bagi2
pengalaman, terutama gue yang bercerita panjang lebar tentang
berbagai hal yang gue rasakan sepanjang tahun ini, karena gue
terakhir kali kesana sekitar September tahun lalu, jadi udah
cukup lama juga...
Lalu, perjalanan dilanjutkan ke daerah Tasikmalaya. Disini gue
mampir ke rumah sahabat gue, Siti, yang dulu jadi temen SMP gue.
Ternyata alamatnya masih bener, dan gue seneng bisa mampir ke
rumahnya yang tergolong "pedalaman" dan jauh dari pusat kota.
Total refreshment, itu yang bisa gue tulis untuk merangkum apa
yang gue lakukan di rumah Siti. Rumahnya yang dekat bukit dan
sungai, rumputnya yang masih seger dan mengeluarkan aroma yang
khas, dan udara yang pastinya sejuk banget betul2 anugerah yang
nggak pernah gue nikmati selama gue di Jakarta. Apalagi diseling
nostalgia SMP gue dan Siti yang rata2 konyol dan tolol, seru
abis!
Kalau malam, biasanya ibu Siti ngerebusin ubi atau kita ramai2
bakar jagung. Suara binatang malam masih jelas banget kedengeran,
dan sama sekali nggak ada suara mesin atau kendaraan sedikit
pun! Tidur malamnya juga nyenyak, karena nggak ada nyamuk...cuma
udaranya jadi jauh lebih dingin daripada pakai AC!
Well...that was my very great time!!!
*bersambung*