jum'at, 25 juli 2008

Seperti yang udah gue tulis di catatan bulanan gue sebelumnya kalau
gue mendapat kehormatan untuk jadi salah satu duta Indonesia untuk hadir
ke sebuah pertemuan antar tunanetra di Asia, gue menjalaninya bulan ini.
Sebenernya juga gue udah tulis review seriusnya di
www.ramaditya.multiply.com, jadi gue pikir nggak akan terlalu banyak gue
bahas disini. Intinya, gue seneng banget mendapat kehormatan untuk bisa
pergi ke Bangkok, Thailand, dan bertemu dengan tunanetra-tunanetra hebat
disana...!

Untuk cerita lebih lengkap, silahkan baca di MULTIPLY gue tercinta ya...!
jum'at, 11 juli 2008
Waktu gue lagi browsing di Multiply, gue nemuin ID
lastepisode.multiply.com. Di dalamnya gue dapet info kalo pemiliknya
adalah seorang penulis dan editor sebuah penerbit. Sang pemilik juga
ngasih nomor kontak dan alamatnya. Wah, komplit banget ya? Nah, pemilik
situs itu namanya Melvi Yendra...
Entah ide gila dari mana, atau jin mana yang merasuki kepala gue, tiba2
gue kepikiran untuk ngajak si penulis ini menggarap ide yang udah
mendarah daging di kepala gue tapi belum juga dikerjain dari tahun kuda.
Yups, the idea was...membuat buku dari blog Ramaditya.com, situs
tercinta yang akhir2 ini rada terbengkalai, tapi gue tetep sayang dia...!
Jadi deh nih orang gue kontak via messenger. Hehehe, sempet salah
panggil, gue pikir yang namanya Melvi Yendra ini cewek, eh ternyata dia
mengkonfirmasi dengan bilang "Saya bukan Mbak," hehehe! Jadi malu nih...!
But, that's only a short intro to a long story... Intinya, Mas Melvi
berkenan meluluskan ide gue itu, dan jadilah gue mulai menggarap buku
itu, menggarap ide yang udah terkubur lama banget, tapi langsung
bersorak gembira waktu dikeluarin dari liang kuburnya *hehehe bahasanya
narsis abis atau hiperbolistik banget nggak seeh*.
Seperti yang udah2, gue jadi bingung harus gimana dan mulai darimana.
Pasalnya gue emang nggak ngerti faedah penulisan buku yang baik dan
benar. Untungnya Mas Melvi paham akan masalah gue itu, dan dia meminta
salah seorang temannya, Mas Hermawan Aksan untuk jadi penulis pendamping
di buku perdana gue ini.
Guess what? Gue nggak pernah nyangka sebelumnya kalau apa2 yang udah gue
tulis, baik di ramaditya.com ataupun ramaditya.multiply.com adalah
seperti potongan2 puzzle yang oleh Mas Aksan disatukan menjadi sebuah
kesatuan yang utuh! Jujur, gue melongo waktu memperhatikan 17 bab yang
tersusun rapi dalam konsep buku yang Mas Aksan ajukan. Jadi, Mas
Aksan sudah mengelompokkan cerita2 dan catatan2 di website gue sesuai
temanya, mulai dari musik, teknologi, cinta, bahkan kumpulan catatan
perjalanan gue jadi motivator!
So, the rest is mine. Gue mulai membuat "jembatan" untuk masing-masing
bab, maksudnya menulis cerita penyambung agar rentetan catatan yang ada
nggak jadi sekedar COPY PASTE. Selain itu, gue juga harus memperbaiki
kesalahan ketik ataupun penggunaan kata yang kurang enak supaya pas
dibaca oleh pembaca buku. Jadi, kalau ada perubahan catatan dari yang
asli itu dikarenakan memang prosedur yang harus gue lalui.
Dengan kata lain, gue dan Mas Aksan punya jatah 50/50 dalam buku ini,
dan gue seneng banget karena akhirnya punya kesempatan untuk
menerbitkannya...!
What will happen next? Only God knows...
rabu, 9 juli 2008
Pagi ini gue baru aja nyuci mobil bokap, dan rasanya agak capek
karena banyak bagian mobil yang kotor, jadi karpet dan pembungkus kursi
sampai harus gue keluarin dulu. OMG! Ternyata, biarpun gue udah terbiasa
melakukan ini, ngerjain beginian di pagi hari bukanlah termasuk hal yang
nyaman, trust me!
Nah, waktu gue selesai, gue cek ponsel sebentar. Guess what I've got? 35
unread messages? WAKS!? Ngak salah liat, eh, denger!? 35 SMS belum
terbaca!? Siapa yang pagi2 gini udah membombardir ponsel gue dengan SMS
segitu banyak!?
Setelah gue buka SMS pertama, barulah gue tersadar... Isi SMS-nya
kira-kira begini; "Mas Ramaditya, perkenalkan nama saya XXX. Saya baru
saja membaca koran KOMPAS dan menemukan artikel Mas Rama disitu, saya
tahu nomor ini dari koran tersebut." So, that's what the rest 34 SMSs
all about...
Bener aja. Gue langsung minta ORTU gue beli tuh koran, dan bener artikel
tentang gue nongol di situ (Rubrik Sosok). Secara gue nggak bisa baca
tuh koran, jadinya gue langsung akses situs online KOMPAS (Kompas Cyber
Media), dan versi digitalnya juga udah manggung disana. Wah, cepet juga
ya? Padahal gue baru diwawancara sekitar 2 or 3 hari sebelumnya, gue
agak lupa. Wawancaranya sendiri dilakukan di Senayan, waktu gue
menghadiri acara kumpul bareng blogger Multiply. Yap, gue memang
memberikan nomor ponsel gue disitu, and it's for the only good reason:
"So that people can be friends with me." Kenapa alasan itu gue tulis?
You gotta know it later.
Impresi pertama gue, tentu saja, adalah bersyukur atas berbagai respon
positif yang diberikan teman-teman baru gue, baik yang kirim SMS,
telepon, atau komunikasi langsung via messenger. Gue nggak nyangka kalau
artikel itu memberikan aura motivasi yang segitu positifnya, bahkan gue
sampai mendapat teman dari tempat paling jauh di Indonesia, let's say
Aceh atau Sulawesi!
Yang kedua, seneng karena bisa berkenalan dengan beragam pembaca. Seru
banget bisa langsung bagi2 pengalaman sama mereka, apalagi waktu mereka
menceritakan pengalaman2 mereka yang baru pertama kali membaca artikel
seperti itu.
Well, ternyata yang usil nggak kalah banyaknya. Ada beberapa orang yang
iseng miscall ponsel tanpa tujuan yang jelas, bahkan sampai mengirim SMS
yang menyebut gue Gay! Jujur, nggak ada hal yang lebih mengesalkan dan
menyebalkan dari mereka yang melakukan hal-hal ini, dan memang gue
merasa sedikit terganggu karenanya, and this is the reason why I put my
motto above.
But, it's not Ramaditya if I lose that easily. Sudah jadi konsekuensi
untuk sebah kontak yang dipublikasikan secara umum, dan gue harus
menerima kenyataan itu. So, what do I do? Beruntunglah karena ponsel gue
sudah dilengkapi sistem operasi Simbian, jadi gue bisa install aplikasi
yang bisa memblok masuknya telepon atau SMS yang nggak kita inginkan.
Untuk SMS misalnya, si pengirim mungkin menerima laporan "delivered"
ketika mengirim SMS ke gue, tapi secara otomatis pesan yang dia kirim
akan dihapus oleh aplikasi yang gue pasang. Begitu pula untuk modus
pemblok telepon. Nomor yang udah diblok nggak akan bisa telepon gue lagi.
So, again, please use my number for good reason...!
"...and my life is beginning to experience new chapter..."