sabtu, 30 agustus 2008
Blind power: berdamai dengan kegelapan

Jujur... Nggak ada kata atau kalimat yang bisa gue tulis untuk
ngegambarin gimana perasaan gue hari ini. Alhamdulillah! Mungkin
itu aja yang bisa gue ucapin untuk sejuta rasa yang gue rasain
hari ini. Hari dimana salah satu impian terbesar gue terwujud.
Hari dimana impian yang jadi kenyataan itu pun disaksikan oleh
orang banyak. That was the day my wings started to spread, and
people started to fly with me... Itulah hari dimana buku pertama
gue diluncurin. Judulnya..., Blind Power: Berdamai Dengan
Kegelapan.
Dan, itu pula yang akan menjadikan diary online Agustus 2008 ini
sebagai diary online dengan catatan tunggal, khusus untuk Blind
Power! I'll tell ya everything behind the screen, yang mungkin
nggak akan pernah kebahas di media mana pun, termasuk di
Multiply gue yang sok formal itu, hehehe! Tapi, buat foto-foto
lengkap, silahkan buka ramaditya.multiply.com ya! Kinda lazy on
that one, so head ahead!
Di diary online bulan lalu, gue udah cerita tentang gimana asal
muasal buku ini dibuat, khan? Lemme tell ya that the book was
done only in a month! Yups, cuma sebulan setelah proses
pertemuan gue dengan pihak penerbit, buku itu pun selesai dibuat!
Memang sih, isinya sebagian besar diambil dari ramaditya.com,
dan boleh dibilang buku ini nggak beda jauh sama para
pendahulunya (buku yang lahir dari blog-red), hanya saja hal
tersebut disembunyikan, hehehe...!
"Tanggal 30 Agustus, buku ini harus dirilis," begitu kira-kira
suara hati gue dan rekan-rekan dari penerbit. Gile bener! It
means, gue dkk cuma punya waktu sekitar 2 minggu untuk nyiapin
semuanya! Man, looking for sponsors, launching place, and all
that in a matter of two weeks!? What a messy plan! Tapi, gue
tetep yakin dan akhirnya memutuskan untuk jalan...
Tapi, nggak ada pilihan or keputusan yang diambil tanpa resiko,
iya kan? Bareng2 sama temen2 gue tercinta, Etha dan Bang Albert,
juga Event Organizer Lawang yang nge-backing acara ini, disokong
ama bantuan dari adik gue yang nggak kalah gigih nyari sponsor,
akhirnya acara peluncuran itu pun semakin terlihat mungkin buat
diselenggarain. Yah, walaupun dalam perkembangannya gue dkk
harus keliling dari kantor ke kantor, kampus ke kampus, dan ...
well, I cannot say more...
Usaha lain yang gue lakuin ya promosi lewat media mana pun,
salah satunya lewat radio dan woro2 di internet. Yang paling
berkesan adalah waktu gue diundang Caesar, pengasuh acara Second
Wave di radio Prambors. Well, which youngsters that do not
recognize the radio I've just mentioned? Disana, gue cerita
banyak tentang latar belakang kenapa gue nulis buku perdana gue,
termasuk soal "kata hati" gue. What's that? Yaps, kata hati yang
meminta gue untuk menceritakan kisah hidup gue, which for me
myself, is just an ordinary story. Tapi, mungkin tujuan di balik
penceritaan itu yang bakal memotivasi orang banyak.
Ngebawa Blind Power sampai detik2 peluncurannya, tentu aja nggak
lengkap tanpa ujian internal yang Allah kasih ke gue. Pertama,
soal waktu yang banyak tersita lantaran gue "ngebut" untuk
ngelarin buku ini. As a result, banyak kerjaan gue yang
terbengkalai, termasuk absennya gue di media tempat gue biasa
nulis, waktu istirahat (begadang, dan ini bikin nyokap nyap-nyap),
bahkan kesempatan gue untuk keluar dan main2 ama temen2 gue.
Tapi, ujian terberat adalah ketika dua hari sebelum peluncuran.........gue
kehilangan kekasih yang udah 3 tahun jalan bareng sama gue, yang
udah 3 tahun jadi kebanggaan dan harapan gue, yang 3 tahun udah
jadi tambatan hati gue, yang 3 tahun udah jadi penahan untuk
beban gue, yang 3 tahun udah bener2 gue perjuangkan...
Man, gue nggak bisa gambarin betapa terguncangnya fisik dan
mental gue hari itu, mengingat semuanya, termasuk persiapan
untuk pernikahan yang udah gue buat. More than that, just trust
me that I was in pain..., bener2 terluka banget, terluka sampai2
gue bener2 nggak bisa ngegambarin betapa tersiksanya gue hari
itu...
But, 2 hari lagi...buku gue bakal terbit, dan di hari itu, gue
harus tampil 100% utuh, prima, dan penuh. Gue harus tampil penuh
motivasi, seperti apa isi buku yang gue tuliskan di dalamnya.
What do I do, I asked...
So, I finally understood... "Semakin kuat hati seseorang, maka
ujian yang diberikan juga semakin tinggi dan berat." Rupanya itu
yang terjadi sama gue. Allah ingin menguji apakah gue siap
kehilangan dan menerima kenyataan, seperti apa yang juga gue
tulis dalam buku gue? So, I asked: "Apa ada orang yang nasib
perjalanan cintanya jauh lebih parah dari ini?" Dan, gue
tersadar bahwa jawabannya adalah "Ya" dan gue udah buang2 waktu
dengan bermelankolis begini. It was only three years, nggak bisa
dibandingin ama pasangan yang mungkin udah jalan 4, 5, 6, bahkan
10 tahun, tapi toh mereka harus pisah juga. Lalu, mungkin ini
adalah saatnya gue introspeksi diri gue sendiri, tentang
kekurangan dan kelemahan serta hal2 yang mungkin jadi penyebab
perpisahan ini, and it was the time I regained my strength and
came back to live...
Akhirnya, hari yang dinanti pun tiba. 30 Agustus, acara
peluncuran Blind Power berlangsung megah di restoran Munik,
Jakarta. The very moment that I will never forget...forever...
(check out other media and my Multiply to get detail info)
*bersambung*