KETIKA AKU HAMPIR MENYERAH
Pernahkah kalian berada pada
saat-saat paling menyedihkan dalam hidup kalian? Saat yang dimaksud
adalah ketika kita merasa bahwa cobaan hidup yang diberikan
Tuhan sudah tak lagi bisa kita hadapi. Di saat itu, yang ada
hanyalah rasa putus asa, dan keinginan yang hilang untuk terus
berjuang dan mencoba...
Gue menulis artikel ini untuk diri gue sendiri, seorang RAMA yang
dalam kehidupannya yang keras ini seringkali berhadapan dengan
rangkaian cobaan demi cobaan.
Semua itu datang, bahkan seperti hendak menguasai seluruh hidup.
Kenapa? Karena gue sendiri merasa kalau semua itu nggak akan pernah
ada habisnya (karena
cobaan itu nggak selesai-selesai). Artikel ini juga gue tulis untuk
seseorang yang saat ini sedang merasakan hal yang sama seperti gue.
Dia, yang saat
ini telah kehilangan keberaniannya untuk menghadapi cobaan yang
diberikan Tuhan padanya. Takut, trauma, atau apa-lah yang lebih dari
itu, kira2 itulah
yang dia rasakan...
Tak hendak menyebutkan apa masalah yang sedang dialaminya, karena
gue takut orang akan memberikan penilaian yang bermacam-macam. Itu
nggak penting kan?
Sebut saja, yang terpenting adalah apa yang bisa kita ambil dari
semua ini...
Masalahnya kira2 begini: Ia trauma untuk mencoba karena apapun yang
dia lakukan selalu gagal. Dia selalu mencoba berpikir mengikuti kata
pepatah: Hidup
ini seperti roda - kalau sudah sedih datang bahagia. Tapi apa yang
dirasakannya? Cobaan itu seperti nggak brenti2 menghajarnya. Hal itu
membuat dia kehilangan
keyakinan untuk terus mencoba.
Well, can't describe it better... Yang jelas, gue hanya mau
memberinya sudut pandang berdasarkan apa yang gue rasain. To tell
everyone the truth, gue tuh
juga seperti itu. Gue seringkali merasa pepatah di atas itu nggak
selamanya benar. Ketika kehilangan kepercayaan, dan itu membuat gue
sering hampir menyerah.
Tapi setelah gue renungkan, gue jadi inget teori tentang pembuatan
yang bunyinya begini...:
Umpama diri kita ini sebuah besi pilihan yang hendak ditempa menjadi
sebuah pedang dahsyat. Gimana coba? Besi itu pasti bakal ditempa,
dipanaskan, dipahat,
atau bahkan direndam dalam cairan pemanas atau dibakar dalam kobaran
api. Nggak jarang juga, besi itu bakal diisi mantera sihir atau ...
yah, pokoknya
seabrek teknik pembuatan lainnya deh! Wah, kasihan ya si besi!
Kenapa nggak asal dibentuk aja? Yang penting jadi pedang, gitu aja
kan? Ternyata semua
baru kelihatan ketika pedang itu rampung. Si besi yang udah habis2an
dikerjain itu berubah jadi pedang maha ampuh yang pilih tanding.
Nah, coba bandingin
sama pedang yang hanya asal buat -- suppose that we use them in
one-on-one battle. Kalian semua pasti udah tau hasilnya...
maksud gue disini adalah, cerita di atas itu sama dengan diri kita
sendiri. Tuhan mungkin saja memberi berbagai cobaan supaya kita jadi
kuat nantinya. Seseorang
yang sering diuji dan mengalami cobaan pasti akan jauh lebih kuat
dan mampu menghadapi cobaan itu kalau seandainya cobaan yang sama
menimpanya. Karena
sudah terbiasa, dia juga lebih siap menghadapinya. Berat memang,
tapi begitu cobaan / ujian untuknya selesai dan kebahagiaan itu
datang ... dia bisa menikmatinya
dengan penuh rasa syukur - terasa besar, meskipun mungkin apa yang
diterimanya itu hanya sesuatu yang kecil. Nah, coba bandingkan
dengan mereka yang nggak
pernah dicobai dan selalu bahagiaaaaaaaaa terus! Begitu ketimpa
masalah, huuuuuuuuuuuuu.......!
Buat gue yang hampir menyerah, buat semua yang baca artikel ini, dan
buat temanku... Yang membuat kita selalu ingin menyerah adalah
ketika kita merasa nggak
ada jalan atau cara lain lagi untuk menghadapi cobaan itu. Tapi,
mungkin kalimat ini bisa membuat kita semua bersemangat...: TUHAN
NGGAK PERNAH MEMBERI
COBAAN YANG MELEBIHI BATAS KEMAMPUAN UMATNYA!
