KARIMA - TO BE WITH YOU 2
STOP PRESS!: Ini adalah
kisah nyata. Artikel ini bebas dari unsur pornografi dan rahasia
pribadi. Dilarang protes, tapi boleh iri!
My heart was swimming
in words gathered by the wind.
My voice bounded
into a cloud-carried tomorrow.
My heart trembled
in the moon-swayed mirror.
Soft tears,
spilled with a stream of stars.
Isn't it wonderful?
If we could walk, hand in hand,
I'd want to go
to your town, your home, in your arms.
I dream of being
against your chest,
my body in your keeping
disappearing into the evening.
Words halted by wind are
a gentle illusion.
A tomorrow torn by clouds is
the voice of a distant place.
My heart that had been
in a moon-blurred mirror that flowed,
Those stars that trembled and spilled
cannot hide my tears.
Isn't it wonderful?
If we could walk, hand in hand,
I'd want to go
to your town, your home, in your arms.
My dream of your face,
that I softly touch,
melts in the morning.
Perjalanan ini berawal dari sebuah impian di kepala Rama: "Bisa
nggak ya gue pergi ke Palembang?". Kedengerannya bodoh ya, karena
caranya untuk pergi
kesana tuh gampang banget. Hehehe, temen2 yang tajir bisa naik
pesawat dan sampai disana dalam waktu satu jam kurang. Untuk mereka
yang punya duit cukup
juga bisa naik bus AC yang nyaman, yang bisa membawa kita sampai
kesana dalam waktu 18 jam. Tapi, semua itu berbeda buat gue. Dengan
kondisi mata yang
cacat dan keuangan keluarga yang pas2an, pastilah akan menjadi hal
yang penuh dengan perjuangan, serta semangat yang tinggi (Note,
kalimat setelah tanda
"," ditambahin ama temen gue yang kebetulan lagi ngeliat pembuatan
artikel ini -- THX!).
Perjuangan diawali dengan MENCARI UANG. Gimana? Yup! Naik turun bus
kota dan kereta api antar wilayah! Ngapain? Hmmm, bawa suling dan
kotak sabun. Truss,
kadang juga jadi diva jalanan. Tudiye! Gue NGAMEN!!!
Dua bulan terus berjalan seperti itu. Sampai, akhirnya tibalah hari
yang ditunggu-tunggu, tepat ketika gue dapet libur besar tiga hari.
Lalu, perjalanan
pun dimulai...
JUM'AT: 10 Oktober 2003 - 09:32 WIB - Universitas Darma Persada
Mitha: "Sayonara, Rama-chan!".
Ayu: "Ini puisi buatanku untuk Femmy. Salam ya buat dia...".
Robin: "Ajak kesini kapan2.".
Yovita: "Wah, bakal ada artikel baru nih di home pagenya! ASYIK!".
Mitha: "Ini bekal buatan Mitha, mie telur dan nasi, juga ada Aqua.".
Rama: "Makasih semuanya... Rama...".
Mitha: "Gambatte! Gambatte!". (Gambatte=semangat dalam bahasa
Jepang)
Gue langsung menuju ke terminal bus. Disana, gue pesen tiket bus
(sebut saja XXX), angkutan jurusan Palembang termurah dan termeriah
di terminal itu. Setelah
menunggu beberapa lama dan berdo'a sebentar, meyakinkan apakah gue
bakal pergi atau nggak, gue berdiri dan mengaktifkan WAHITA, aura
gue yang sekaligus
bagian dari diri gue yang juga bisa diajak ngomong. Aura diaktifkan,
tandanya semua lima panca indera bekerja lebih baik daripada fungsi
normalnya, tapi
juga menghabiskan cadangan mineral dan karbohidrat di badan.
Rama: *dalam hati* "Aura...AKTIF!".
Akhirnya, gue memutuskan... Sebuah keputusan yang boleh dibilang
GILA ABIS. Dengan perbekalan yang serba minim, gue harus bisa
me-manage semuanya. Uang,
makanan, bahkan teguk demi teguk air sekalipun harus gue
perhitungkan. Man, Sumatera itu jauh lebih besar dari Jawa, dan gue
blon pernah kesana. Apalagi
dengan kondisi fisik gue yang seperti ini, and it will surely be
hard!
Bus meninggalkan terminal tepat jam 2 siang. Aroma penumpang yang
ABCD mulai berhembus, mulai dari tukang sayur, kuli, ibu2+anaknya,
tukang koran, dan seabrek
penumpang kere lainnya (termasuk gue). Well, what did I call myself?
A wanderer....
Wahita: "Wah, kamu keren lho Ma! Keren di antara kere, hihihi!".
Rama: "Nggak loecoe! Mendingan kamu pikirin gimana caranya supaya
aku cepet sampai!".
Wahita: "Cepet sampai? Kalo mau cepet ya naik bus eksekutif! Naik
sih yang ginian!".
Rama: "Hei! Ini aja ngumpulin duitnya selama dua bulan lho!".
Wahita: *dalam hati* "Dan sang pengembara nggak punya cadangan uang
untuk pulang...".
Sekitar jam enam sore, bus yang gue naikin mulai memasuki kawasan
TOL Merak. Kira2 satu jam berikutnya, gue 'n rombongan tiba juga di
pelabuhan Merak. Sebelum
berangkat, kita singgah di rumah makan untuk DINNER (meskipun gue
tau bahasanya terlalu tinggi untuk penumpang macem kita).
Wahita: "Wah wah wah! Bener2 nggak punya uang ya mas? Tuh orang
restoran pake acara di-hipno segala? Makan nasi, opor ayam, sup dan
es teler, semuanya nggak
bayar?".
Rama: "JANGAN BERISIK!!! Kamu mau kalo aku mati di jalan? Lagian aku
butuh tenaga ekstra untuk terus2an mengaktifkan kamu!".
Wahita: *dalam hati* "Ya Allah, aku ini cuma angel-nya Rama, dan
bukan Rama-nya. Jadi kalo mau menghukum, hukum dia aja...".
It's eight sharp... Beberapa meter sebelum bus bener2 masuk ke kapal
penyeberangan Jakarta-Sumatera, perasaan gue berdebar-debar. Selama
ini, gue emang
suka traveling dan pergi kemana-mana sendirian. Gue selalu melakukan
itu dengan penuh percaya diri, dan paling jauh tuh ya ke Bandung,
dan itu alasannya
jelas (cari bahan skripsi, buat artikel, belanja dll). Tapi
sekarang? Well, the answer is that simple: I want to see my
girlfriend... Nggak ada alasan
lain!!! Seandainya gue pergi, itu artinya gue bakal ninggalin pulau
Jawa dan berada di daerah yang sama sekali nggak pernah gue pijak,
termasuk kedua orangtua
gue sekalipun! It means, gue bakal bertaruh dengan apapun yang ada
untuk menghadapi yang ada...
Wahita: "Kamu yakin......Ma? Kalau kamu berubah pikiran, kita masih
punya beberapa detik lagi. Aku bisa tuntun kamu ke bus arah Jakarta,
dan kamu bisa pulang...
So, make your choice...".
Rama: ".......".
Wahita: "Aku tahu......aku tahu...... So, it's time to say GOOD BYE
to this island, right?".
Rama: "Yeah.......".
Begitulah... Akhirnya bus masuk ke kapal penyeberangan dan...GRENG!
Pintu gerbang ditutup! Rama is about to leave! Karena banyak bus
lain yang parkir, jadi
bakal susah banget buat gue untuk naik ke ruang tunggu, karena
jalannya sempit dan ribet. Kalo gue pake tenaga Wahita terlalu
banyak, gue khawatir itu
terbuang percuma. Jadi, gue putuskan untuk tinggal di bus sama
kondektur dan sopir bus.
Wahita: "Kamu nggak bosen Ma?".
Rama: "Definitely!!! Dari tadi yang kedengeran cuma suara mesin
melulu. mau denger walkman juga percuma! Uh, bt!".
Wahita: "Gimana kalo aku tuntun kamu ke pingir kapal? Mungkin kamu
bisa lebih santai disana.".
Rama: "...iya juga ya! Tapi, kamu nggak apa2?".
Wahita: "Don't worry, your highness. I'll only use 0,2% of my power.
You still have 88%. Gimana, mau?".
Rama: "OK deh, tapi mau ngapain disana? Toh nggak ada yang bisa
diliat!".
Wahita: "Pull your Aurora out and make a song!".
Rama: "What an idea! Okay!".
Sebentar aja, gue udah ada di pinggiran kapal. Suara air laut dan
hembusan angin yang menerpa muka gue yang udah sama dekilnya ama bus
yang gue naikin itu
membuat gue ngerasa lebih fresh.
Wahita: "Mm? Nyaman kan?".
Rama: "Iya... Kayak di film Titanic!".
Wahita: "Your song is more than that, I suppose.".
Rama: "Really? Thanks! Padahal banyak yang bilang kalo musikku itu
aneh. Aku juga selalu cemburu ama artis2 yang bisa selalu dapet
tempat tertinggi di hati
penggemarnya, dan itu semua lantaran mereka bisa buat musik bagus
dan modern. Sedangkan gue? Cuma bisa buat musik game doank, dan
pacarku lebih memilih
lagu berlirik ketimbang punyaku. Liat aja...".
Wahita: "Duuuuuuuhhhhhhh......jangan sedih gitu donk......".
Rama: *mengambil buku coret2 dari tas* "Nada ini...OK!
Lalu...mm...".
Wahita: "Kamu berencana mau buat album musik lagi?".
Rama: "Yeah... This will be an unforgetable experience, so I have to
remember it. Mungkin kali ini aku nggak akan publikasi albumnnya.
Aku nggak mau dicela
lagi lantaran gaya musiknya aneh. Lagipula, gue tuh pengen banget
musik2 gue bisa jadi pujaan sang pujaan... I hate to say that I
can't stand!".
Wahita: "Jadi, tipikal musik game lagi?".
Rama: "Yeah... I've tried so hard, ampe nongkrongin MTV berjam-jam,
tapi tetep aja nggak dapet ide. Gue jadi iri sama mereka yang bisa
bikin pacar gue seneng,
Ta...".
Wahita: "NO! NO! NO! Don't change your style! Aku suka banget!
Please! Eh, gimana kalo kamu kombinasiin antara style musiknya Final
Fantasy dengan musik
ala MTV? So, your girlfriend will admire it!".
Rama: "That's the point! Gue selalu nggak dapet ide untuk membuat
gaya musik sebagus MTV, Savage Garden dan sebagainya itu! Gimana
donk?".
Wahita: "Concentrate, Rama... Use the soft touch of the wind, not
the fire of emotion... Kamu pasti bisa, dan nantinya Femmy bakal
tergila-gila sama musikmu.
AKU YAKIN!".
Rama: "Thanks, my cuty angel..."..
Wahita: *dalam hati* "That's the only thing I can do for him...".
Setelah beberapa lama menghirup udara laut, gue balik ke bus. Baru
aja gue mau duduk, kedengeran suara gaduh di bawah bangku. Itu
letaknya berdekatan dengan
tempat penyimpanan tas penumpang. Guess what? Dua orang berpisau
langsung menghambur keluar - satu di antaranya udah berhasil membawa
barang curiannya...
Rama: "Hei!".
Maling 1: "Akh!".
Rama: "Pak kondektur, ada...".
Maling 2: "Lo ganggu kita! Mampus loe!!!" *menyerang*
Gue baru sadar kalo ternyata di bus itu gue cuma sendirian. Rupanya,
pak kondektur yang bernama Renggon itu sedang keluar mengecek
keadaan bus dan blon
sadar tentang kejadian di dalam. Menyadari keadaan yang nggak
memungkinkan, (even though I have learned fighting skills), gue
berusaha keluar lewat kaca
jendela dan berteriak keras, memancing perhatian siapapun yang bisa
mendengar suara gue. I'm not a coward, but I could see that those
thieves were very
good in using knife. Mungkin gue bisa leluasa melakukan perlawanan
kalo tempatnya lebih lega (Duh, coba ada kamera TV).
Wahita: "Rama AWAS KANAN!".
Rama: "Aahh...".
Wahita: "Now give your blast to the person next to you! Quick!".
Rama: "Haaahhh!!!".
Maling 2: "Mau kemana loe!!!".
Rama: "Ga...gawat! Lengan gue terkunci!".
Wahita: "Tahan Ma! Kondekturnya udah tau! Bentar lagi dia bakal
dateng ama petugas kapal! Coba manfaatin orang yang kamu cengkeram,
puter badan dan benturin
mereka!".
Rama: "I...I just ca...n't!".
Renggon: "Buyung! Buyung! Lari!".
Petugas Kapal: "Jangan bergerak!".
Hehehe, gue pikir elo udah tau ending dari short battle itu. Enam
orang petugas kapal langsung mengamankan dua maling itu. Uuuhhh,
kalo aja pak Renggon
nggak cepet dateng, mungkin gue udah...... Eh iya, gue lupa cerita!
Pak Renggon yang kondektur bus XXX itu jadi akrab ama gue setelah
kita makan bareng
di pelabuhan Merak. Dia nggak tau nama gue, jadi karena dia tau
tujuan gue ke Sumatera, dia manggil gue Buyung. Setelah kejadian
itu, gue nggak lagi duduk
di bangku penumpang, tapi nemenin pak Renggon 'n driver...
Setelah dua jam setengah gue berada di kondisi ter-bt (Say: Mesin,
mesin dan mesin meloeloe), akhirnya kapal sampai juga di pelabuhan,
dan ... it was my
first time being in Sumatera... The land of Femmy, the place I have
never known before. So, sekarang gue udah satu pulau sama pujaan
hati gue, dan juga
sepulau ama GAM?
Rama: "So, 'Tis Sumatera!".
Wahita: "Yup!".
Rama: "Eh, tadi pak Renggon bilang kita lewat lintas barat dan nggak
lewat lintas timur. Emang apa sih bedanya?".
Wahita: "Mm? Aku nggak tau. Selama ini aku kan bisa langsung
teleport Jakarta-Palembang, jadi mana tau soal lintas2an segala?".
Rama: "Can you detect it for me? Gue udah nggak sabar lagi nyampe ke
Palembang.".
Wahita: "Mmm... Wah, kachiian deh lu! Kaya'nya kamu harus jadi
penghuni bus ini sampai 12 jam lagi...".
Rama: "A...APA!!!??? You must be kidding! Femmy dan temen2nya aja
bisa sampai cepet, tapi...".
Wahita: "Itu karena mereka lewat lintas timur. Kalo kamu lewat
lintas barat, jaraknya tiga kali lebih jauh.".
Rama: "MATIAKUUUU!!!!! Itu artinya gue bakal kehilangan banyak
waktu, dan baru sampai di Palembang sorenya? Aaaaaa!!!!!
Kaaaaa.....ngeeeeeeennnnn!!!!!!".
Wahita: "Sabar, froggy! Orang sabar disayang pacar!".
Udah kepalang tanggung. Nasi udah jadi bubur, jadi mendingan
buburnya dijadiin bubur ayam. Bersama driver dan pak Renggon, gue
menikmati perjalanan dengan
bercakap-cakap dan becanda nggak karuan. Mengingat gue ini orang
baru di pulau ini, gue tuh jadi norak banget. Semua tempat ditanya,
nggak brenti2 tengak-tengok
ngeliat sekeliling, dan nanya: "Palembang masih jauh nggak Pak?",
dan seabrek tingkah norak lainnya.
Hari Sabtu (11 Oktober 2003), tepatnya jam enam pagi, kita sampai di
daerah yang katanya disebut Martapura. Hehehe, waktu gue selesai
mandi dan sarapan
di restoran persinggahan, gue duduk melamun di belakang bus,
memikirkan nasib gue sekarang ini. Demi mau ketemu sang pacar, gue
sampai jadi gembel begini?
What will she say? Gue jadi teringat akan perbedaan status kita yang
jauh. Femmy itu, boleh dibilang hidup di lingkungan keluarga yang
berkecukupan, dan
... boleh dibilang, masuk akal untuk disebut sebagai keluarga MEWAH.
Dia punya mobil sendiri, punya HP, bisa telfon2 sesering mungkin,
dan pastinya uang
sakunya berlebih. Gue juga yakin, dia nggak perlu harus berjuang
seperti ini, karena dia bisa langsung ambil tiket bus eksekutif atau
naik pesawat (kalo
gue?). Wahita told me that everything in her house is...well,
rich-minded. Mau dibandingin ama gue? Man, kaya' bumi dan bulan!
Kadang suka minder juga
sih, but, I have to fight, right?
"Baleeeeeklaaaaaahhh!!!! Abangku baleeeeeeeeekkkkkk!!!!! Akan
ku...tungguuuuuuu...".
Hehehe, itu kutipan lagu dari CD di restoran persinggahan yang bikin
gue ketawa geli. CD yang kaya'nya rusak dan jadi ngulang2 terus di
track yang sama
itu bener2 kedengeran lucu. Bukan karena error-nya, tapi lirik
lagunya! Itu kan seperti undangan pulang seorang gadis kepada
kekasihnya yang menunggunya.
Hehehe, and what am I doing right now? Femmy is not waiting for me.
Ya iya laa! Gue kan emang nggak ngasih tau dia sebelumnya. Gue emang
sengaja pengen
bikin kejutan buat dia! Setelah bus siap berangkat (Note: Lagu itu
terus seperti itu sampai 20 menit), gue pun naik ke bus dan ...
let's rock the road!
Hari semakin siang, tapi Palembang tak kunjung tiba.
Rama: "Wahita, apa gue masih punya perbekalan? Mm...".
Wahita: "Kamu kenapa Ma? Mukamu pucat banget?".
Rama: "I...I guess I've lost strength. Tadi malem kan cuma makan
bekal dari Mitha yang mie-nya nggak berbumbu, nasinya blon mateng
dan telurnya keasinan.".
Wahita: "Ma...bertahan ya Ma...".
Rama: "Ta, maaf ya. Tadinya gue pikir gue bakal sampai pagi2, jadi
gue nggak harus memforsir aura gue selama ini. Do you still have
strength?".
Wahita: "Masih, Ma. Tapi, aku cuma bisa bertahan tiga jam lagi.
Habis itu, kamu nggak akan bisa lagi ngomong sama aku.".
Rama: "Oh, boy... So, what should I do?".
Wahita: "I know... I'll try to make you sleep, otherwise I am able
to take a rest.".
Rama: "Good... Tapi, apa elo yakin gue bakal baik2 aja kalau aura
non-aktif?".
Wahita: "I'll wake you up if I sense something bad... Lagipula, pak
Renggon kan ada disini. You'll be well protected.".
Rama: "Thanks... AURA NON-AKTIF!".
Wahita: "Sayonara... *disappear*".
Lumayan... Gue bisa membunuh waktu sekitar dua jam di dunia mimpi.
Pak Renggon yang tau kalo gue sedikit nggak enak badan nawarin gue
untuk turun makan
siang. Sebenernya bus berencana langsung tancap gas ke Palembang,
tapi drivernya juga mau makan. Jadi, kita brenti di daerah Lahat dan
makan siang. Well,
setelah makan, gue jadi bisa lagi mengaktifkan aura gue.
Gue terus berusaha membunuh waktu. Kata2 "Time Flies" dari Femmy
kaya'nya bener2 gue butuhin disini. Udah dengerin walkman, ngobrol
dan liat2, tapi nggak
sampai2 juga ke Palembang. Gue mulai sedih karena perkiraan gue
meleset. Kalau sampainya sore, what can I do to enjoy the day with
Femmy? Gue mulai cemas,
dan terus seperti itu sampai akhirnya pak Renggon teriak:
"Palembang! Palembang! Habis!". Sial! Tuh orang yang tau kalo gue
mau nemuin sang pujaan hati
pake acara nggak ngasih tau segala! SEBEL!
"So, this is Palembang...", kata gue dalam hati, sebelum akhirnya
bersorak keras2 karena akhirnya gue sampai juga. Setibanya disana,
gue nggak langsung
telfon Femmy, tapi jalan2 dulu sama pak Renggon. hehehe, ternyata
gue juga sempet lewat daerah radio SPI tempat Femmy siaran.
menjelang jam empat sore,
gue balik ke terminal bus XXX and...make a surprise call to Femmy
(baca artikelnya di
http://femmy.blogspot.com).
Gue duduk di bangku depan, bersebelahan dengan Femmy. Rasanya masih
nggak percaya kalo ini bener2 terjadi. Femmy and I......together?
Tapi ini sungguhan!
Yah, Femmy emang sempet ngomel2 gara2 kejutan itu, tapi akhirnya
kita saling seneng karena bisa ketemu satu sama lain. Sayang, Femmy
harus pulang dan gue
diantar ke penginapan. Note: Thanks, Femmy... Sebenernya gue ini
udah terbiasa hidup sederhana dan tidur dimanapun. Tujuan gue dateng
juga untuk menikmati
semuanya bersama Femmy, jadi sebisanya, gue nggak mau ngerepotin.
Sekali lagi, makasih...
Karena tau kalau satu detik di Palembang itu berharga, gue nggak
tidur. Setelah cari dinner dan ngobrol sama pemilik penginapan, gue
nerusin bikin lagu
yang tadinya nggak kelar gue kerjain di kapal. Terus, sampai pagi,
dan Femmy datang...
Minggu: 12 Oktober 2003 - PALEMBANG
Well, I, along with Femmy and friends spent all seconds together. To
be sure that we were so happy. Unfortunately, time was up and I had
to go home...
Kita jadi satu... Itulah deskripsi Femmy dan gue siang itu. Ada
ketawa, ada canda, ada air mata... Semuanya kita nikmatin bareng2
dalam sebuah pelukan...
Well, till we meet again, Femmy...
Sebelum bus jurusan Jakarta berangkat jam 2 siang, gue dan Femmy
kembali menikmati sisa2 waktu. Disana, gue bilang: "Maaf, Femmy.
Sekarang Rama datang sebagai
pengembara, dan tentunya nggak pantes untuk bisa dateng dan menemui
orangtua Femmy. Tapi, suatu hari nanti Rama pasti kesini lagi, dan
di saat itu, Rama
udah jadi orang sukses dan bisa jadi kebanggaan Femmy...".
Wahita: "Maaf ya para pembaca! Artikel ini biar aku yang tutup.
Setelah Rama naik bus, nggak ada yang bisa dia lakukan selain nangis
dan nangis terus. All
I can do is to ease his feeling and bring him to sleep. The moment
he wakes up, dia udah ada disini... Well, everyone, gimana menurut
kalian kisah cinta
sang pangeran kodok ini? Memang nggak seromantis Romeo & Juliet,
atau Jack and Rose-nya Titanic. Tapi, ini adalah sebuah kisah nyata
dari sebuah impian
yang lahir dari hati yang penuh rasa sayang... Well, I hate to say
this, but...this is our nice DI-EN!!!".
