MESSENGER: DUNIA DALAM KATA
Sebagian orang mungkin
beranggapan kalau messenger hanya sebuah sarana ngobrol yang mubazir
dan buang2 waktu, some others ay that it is the hell of business
as they have to make job report or do confrence with their business
partners. Ada juga yang acuh tak acuh karena menganggap messenger
itu nggak penting.
Lalu, bagaimana dengan gue? Let me say: "Messengerku, duniaku dalam
kata..."
Let's say, gue biasanya mengaktifkan 3 jenis messenger sekaligus.
MSN Messenger untuk tugas terjemah jarak jauh, Windows Messenger
untuk bekerja/berkomunikasi
dengan rekan kerja di kantor, dan Yahoo! Messenger untuk melepas
stress dan bicara dengan orang2 dekat (gue cuma kasih ID MSN dan
Windows Messenger ke
mereka yang berhubungan dengan pekerjaan).
Dunia dalam kata? Apa sih maksudnya? Yap, karena apa yang terjadi di
messenger tak ubahnya kejadian virtual di dunia nyata yang sekarang
gue alami. Disana
gue punya orangtua, teman, sahabat, kekasih, bahkan musuh dan orang2
menyebalkan.
Di messenger, gue punya dia, seorang yang bisa berdialog dengan gue
laksana "mama" yang perhatian dan penuh kasih sayang, asyik diajak
sharing, tapi juga
berwibawa. Di messenger, gue punya dia, guru IT dan bahasa yang
selalu siap membantu gue kalau ada masalah, memandu gue secara
online dalam merampungkan
tugas2 gue. Di messenger, gue punya dia, seorang bapak yang mau
membantu gue untuk selalu tegar dan bersikap bijaksana dalam
menghadapi masalah yang muncul.
Di mesenger, gue punya saudara perempuan (lebih muda ada, lebih tua
ada) yang manis dan penuh perhatian, meskipun terkadang suka manja
dan bertingkah sedikit
menyebalkan, tapi mereka itu saudara2 yang baik hati dan penuh
kehangatan. Di messenger, gue juga harus terus bertegang-tegang
karena harus berhadapan
dengan "musuh" yang selalu memaksa gue melakukan hal2 yang nggak gue
inginkan, memerintah seenaknya (bastard), dan nggak menghargai kalau
gue itu adalah
sebuah keberadaan. Di messenger, gue punya banyak teman yang kompak
dan asyik diajak berbagi cerita, ada yang membantu gue berdiri lebih
kuat, ada yang
bersandar dan minta gue mengeringkan air matanya. Di messenger, gue
punya "putri pujaan hati," pemberi semangat yang selalu gue tunggu2
online dan status
manisnya, meskipun pertemuan itu masih sangat singkat (terhitung
ketika artikel ini turun) tapi gue sudah merasakan kebahagiaan yang
luar biasa hebatnya,
ketika gue ingin selalu memperhatikan dan diperhatikan, dan mungkin
memeluknya meskipun hanya lewat status...
