CHO CHANG- TO BE WITH YOU
"TO BE WITH YOU" Series is
back!!!
Hello everyone, khususnya temen2 yang udah baca artikel "Karima - To
Be With You" dan pengen banget baca lanjutan artikel itu. Well, here
goes, tapi ini
bukan lanjutan dari artikel "Karima - To Be With You." Gue putuskan
kalau artikel itu udah TAMAT, dan rasanya emang udah nggak mungkin
lagi disambung.
Finally, I came up with one idea, to write another story... Kisah
nyata...yang bahkan bisa menyaingi artikel "Karima - To Be With
You!!!" Yup, this is
it!
Mungkin temen2 ada yang nanya: "Cho Chang? Apa itu dari novel Harry
Potter?" 100! But this is not the real Cho Chang, tapi panggilan
sayang yang gue pilih
untuk cewek yang sekarang ini ngerubah status JOMBLO gue jadi
COUPLE, hehehe...! Just call her, Rani...siswi SMU 16 tahun yang
bersekolah di Bandung (Tahun
ini, 2004). Kenapa gue kasih keterangan "Tahun ini, 2004?" Ya iya
laa, kalau artikel ini dibaca tahun 2007 kan nggak mungkin umurnya
masih 16 tahun? About
the music? Gue sengaja pilih musik yang sedikit "marching" karena
gue pengen selalu bersemangat! This background music is taken from
game, Ogre Battle
64 (Nintendo 64).
--------------------------------------------------------------------------------
PROLOGUE
DON'T CRY, LITTLE GIRL
----------------------
Don't cry, little girl, don't cry any more.
Someday you'll know.
Life always has a reason,
And even sadness is worth something.
What puts tears on your face
Is the kindness in your heart.
And a girl who knows this kindness
Will be a most beautiful, beautiful woman.
A star appears,
Smiling for you, little one.
And a girl who knows this kindness
Will be a most beautiful, beautiful woman.
......930. Gue yakin nggak salah pencet nomor ponsel waktu itu, tapi
kenapa SMS gue nggak direspon? Padahal temen gue, Dinny, bilang
kalau dia mau kasih
kode rahasianya segera setelah SMS gue kirim. Gue baru nyadar waktu
meriksa register ponsel, ternyata waktu tadi masukin input nomor,
jari gue sedikit
meleset. Kode akhir yang seharusnya 930 jadi 630. Waduh, gimana nih?
Jadi barusan tuh gue kirim SMS kemana?
I was trying to make an excuse by calling the owner of that number,
tapi...the owner is a girl! Wah gawat! Tau sendiri kan kalau gue itu
paling groggy ngomong
sama cewek yang nggak gue kenal! Akhirnya gue cuma berani miskol,
dan dia juga miskol balik! Aduh, gue jadi nggak enak, tapi sempet
terpikir juga untuk
nyoba kenalan. Tapi dasarnya gue ini pemalu, gue cuma bisa telfon
dan mengira-ira apa cewek yang punya nomor ponsel itu galak atau
nggak hanya dengan mendengar
suara "Hallo,"-nya aja... Gue jadi tambah deg2an waktu tuh cewek
telfon balik. Oh my, what will happen next? Apa dia bakal marah2 dan
minta gue untuk nggak
mengganggu, atau...aduh, gue harus bilang apa?
Formal dan kaku banget, itu penjelasan yang paling tepat waktu
akhirnya gue EAR-TO-EAR sama tuh cewek. Rani, that was a nearly
short answer she gave me...
Belakangan gue baru tau kalau ternyata dia itu bersekolah di Bandung,
masih SMU, and she's 16 years old. Gue cuma punya sedikit keberanian...ehm,
bukan...tapi
kenekadan...waktu akhirnya dengan suara yang sedikit ditarik, gue
bilang: "Mmm, Insya Allah besok gue telfon balik deh. Mungkin kita
bisa ngobrol2..."
Akhirnya kita berdua mulai akrab, dan gue juga udah bisa sedikit
rileks, meskipun kadang masih suka kaku banget kalau ngomong. Lewat
bantuan Putri (Pu-chan),
adik kelas fakultas Sastra Jepang yang jadi sahabat deket gue, gue
kursus kirim SMS super kilat dalam waktu kurang dari satu jam! Gue
pikir kalau gue bisa
kirim SMS, gue bisa jauh lebih santai dan nggak groggy, dan juga
bisa mikirin apa yang mau gue sampein. Thanks, Pu-chan, meskipun
buat latihan gue harus
ngabisin pulsa 10 ribu...!
--------------------------------------------------------------------------------
RaRa
Sejak itu gue mulai SMS-an, dan gue ngerasa seneng banget karena
bisa akrab sama Rani. Tapi, ada satu fase yang belum terlewatkan,
yaitu memberitahu Rani
kalau teman barunya ini punya kekurangan. Hal itu bikin gue sedikit
khawatir, will Rani be OK if she knows the truth of me? Tapi gue
pikir lebih baik dia
tau dari awal, jadi seandainya ada hal buruk yang terjadi, gue nggak
akan ngerasa sakit... Thanks to you, Vany... Makasih karena gue
nggak harus mencet
tombol SEND itu sendiri... Lama banget gue tunggu SMS balik dari
Rani, tapi SMS itu nggak juga nyampe. I was about to give up hoping,
dan mulai berpikir
kalau gue mungkin bakal kehilangan temen yang baru aja gue kenal...
Tiba2 sinyal SMS kedengeran, dan gue minta Vany yang ngebacain...
"Oh...jha...di, gi...tyu! Akhu ... jipipi kok chumaa takuth khamu
ter...singgung... Ipipi kok, kitha tetaap bisaa bertemeen!"
Vany, salah satu mahasiswi asal Irlandia yang ikut program
pertukaran pelajar dan dititipkan dosen gue untuk jadi partner
ngomong gue itu ngebacain SMS
yang lumayan panjang itu. Gue seneng banget karena Vany udah banyak
kemajuan berbicara Indonesia, tapi lebih seneng lagi waktu tau isi
SMS itu. Jadi ...
jadi gue bisa tetep SMS-an dan jadi temen Rani? Adegan
kekanak-kanakan berikutnya adalah jingkrax2 dan makan dua piring
Chicken Yakiniku, semuanya gratis
karena waktu itu Vany lagi ulang tahun...
SEND...SEND...SEND lagi...! Kirim SMS ke Rani itu udah kayak
berbalas pantun. Dalam waktu singkat, temen2 deket gue udah langsung
tau, karena untuk tau
isi SMS itu gue nggak bisa baca sendiri. Gue cuma bisa kirim, tapi
nggak bisa baca kiriman orang lain. Bagas, sobat kental gue sejak
SMP yang baru nyelesein
pendidikan musiknya sebagai gitaris di Amerika itulah yang paling
sering bacain SMS untuk gue...
What do I feel? Gue selalu ngerasa seneng tiap kali ber-SMS. I feel
something...something like...the one I've ever felt before...!
Perasaan hangat yang
udah lama mati, ikut beku bareng2 sama luka yang dibuat orang2 yang
dulu pernah nyakitin gue... Gue nggak tau kenapa bisa secepat ini,
tapi gue ngerasa
banyak hal2 yang pernah hilang dari gue, sekarang kembali lagi! Gue
seneng banget tiap kali denger miskol dari Rani, terlebih lagi SMS
yang dikirimnya
bener2 "friendly" banget, bikin gue ngerasa nyaman...! What's more?
Gue nggak tau kenapa tiba2 gue jadi terinspirasi untuk bikin banyak
lagu untuk proyek2
musik yang bulan2 ini lagi gue garap...!
Wahita: "It's HER again, little master!"
Rama: "Yup, gue tau... Tapi gue nggak bisa baca SMS-nya sekarang
soalnya orang rumah udah pada tidur. Eh, dia marah nggak ya kalau
gue telat bales?"
Wahita: "Aku rasa nggak, kan kamu udah jelasin soal kekurangan kamu,
iya kan?"
Rama: "Jadi, sekarang gimana, Ta?"
Wahita: "Gini aja, kamu miskol dia, dan kirim SMS yang isinya,
APAPUN ISINYA, TERIMA KASIH... Bilang kalau kamu belum bisa baca
SMS-nya, tapi pasti dikomentarin
besok. How about it, little master?"
Rama: "Wah thx! Oke, sekarang gue kirim!"
Wahita: *dalam hati* "Wah, bisa2 besok dia bakal isi ulang pulsanya
lagi tuh, hehehe..." *disappear*
Inilah ketika akhirnya gue ngasih nama ponsel gue, RaRa (Rama & Rani).
Temen2 gue pasti tau kalau gue itu manusia yang paling males punya
ponsel. Keadaan
dan tuntutan kerja yang sebenarnya membawa ponsel itu ke tangan gue,
itupun dimodalin temen2 satu band yang bilang kalau gara2 gue nggak
punya ponsel,
banyak banget kegiatan yang jadi tertunda. Back to the topic, Gue
pilih nama itu karena penggunaan ponsel gue itu jadi aktif, dan
untuk pertama kalinya
itu ke Rani. Gue pikir, gue bisa mengabadikan momen ini dengan naruh
nama depan gue dan Rani, kenangan sebagai SMS-mate...
Tapi, apa cuma itu? Gue rasa nggak. Semakin hari, gue semakin
ngerasain perasaan itu. Kenapa gue selalu nunggu2 SMS dari Rani?
Kenapa juga gue selalu SEMANGAT
45 kalau denger miskol dari Rani? Kenapa gue ngerasa ... ...
Wahita: "Kamu kenapa, Ma? Kok senyum2 sendiri dan mukanya jadi merah
begitu?"
Rama: "Jangan BERISIK! Emangnya...emangnya kenapa kalau..."
Wahita: "Ah, gpp, cuma geli aja ngeliat kamu salah tingkah begitu.
Udah malem begini tapi belum juga tidur. WAAH, pasti karena Ra..."
Rama: "CEREWEEEEEEEEEETTTTTTTTT!!!!!!!!!!"
Wahita: "Hi...hi...hi...! Wah aku nggak ganggu deh! Met malem Mr.
Pink...!" *disappear*
Seneng... Itu penjelasan singkat dari apa yang gue rasain sekarang.
Perasaan ini seperti...waktu gue dapet sahabat baru di masa lalu...
Kalau gue pergi
kemanapun, rasanya jadi berwarna kalau ada seseorang yang ngasih
perhatiannya dari jauh. Dari pagi sampai malem, sampai akhirnya gue
kecapaian dan ketiduran...dan...
Dark Aurora: "Mulai lagi, Rama? Masih belum kapok juga ya?"
Rama: "Uh...mmm..."
Dark Aurora: "Apa elo masih belum ngerti juga? Elo itu cuma manusia
pembawa sial! Elo nggak pantes nerima kebahagiaan! Gue liat...hmmm,
kayaknya elo ada
hati ya sama cewek itu? Kalau aja dia tau tentang elo le..."
Rama: "Dark Aurora!!! You........!"
Dark Aurora: "Ah, I see you've got strength, boy! Yes, anger and
hatred are the most potential essences to make me grow stronger.
Come on, show me your
TRUTH!!!"
Rama: "Harus berapa kali lagi gue kasih tau kalau gue nggak selemah
dan seburuk dulu!?"
Dark Aurora: "Oh...ya? Coba elo inget2 lagi...!"
Seiring dengan kata2 terakhir Dark Aurora, tiba2 pemandangan di
sekeliling gue berubah jadi gelap. Samar2, muncul citra hitam putih...banyak...banyak
banget...!
Kalau gue nggak salah, itu adalah jajaran potret kenangan buruk gue
di masa lalu. Disana ada foto Purdey, sahabat karib gue yang
akhirnya ninggalin gue
karena sifat kekanak-kanakan yang gue lakukan terhadapnya. Ada juga
kenangan paling menyakitkan, waktu gue memeluk Neneng, temen
sebangku SMU yang cuma
sempet jadi pacar gue selama satu menit, sebelum tumor otak yang
ganas itu menghantarkan ajalnya di rumah sakit. Gue juga masih inget
beberapa kenangan
buruk, waktu gue ditipu mentah2, diperdaya, bahkan difitnah sama
orang2 yang paling gue sayangi akibat gue menaruh kepercayaan 100%
sama mereka. Gue juga
nyaris bikin temen2 gue babak belur waktu kemarahan gue nggak
terkendali waktu gue tau kalau gue dikhianatin. Femmy, cewek yang
pernah berjanji untuk nggak
ninggalin gue tapi...tapi...
Rama: "Noooooooooooooooooooo!!!!!!!!!!!!!"
Dark Aurora: "Hahaha!!! Itu memang elo, Rama! Itu memang nasib elo!
Elo nggak berhak atas kebahagiaan! Elo nggak berhak untuk terus
berjuang! Kemarahan,
kesedihan, keputus asaan, semua itu yang seharusnya jadi milik
elo...ADA DI PIKIRAN ELO!!!"
Rama: *berteriak sekerasnya, pemandangan sekeliling berubah merah
seperti darah*
Dark Aurora: "That's the truth of you, Rama! Wha...what's this
light...!?!? AAAAAARRRRRRRRGGHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!" *bayangan
Dark Aurora meledak*
Wahita: "Little master! Little master! Please, wake up, Rama!"
Rama: "... ... ..."
Wahita: "Maaf aku dateng terlambat... Mimpi buruk lagi ya Ma?"
Rama: "... ... ..."
Wahita: "Seharusnya kamu baa do'a dulu sebelum tidur. Kamu lupa
kan?"
Rama: "Yeah..."
Wahita: "What did he tell you? Trying to make you weak again?"
Rama: "Ta...apa bener yang dia bilang? Kalau gue ini..."
Wahita: "Shhhh, Rama, kamu udah sering ngalamin kejadian seperti
ini, harusnya kamu udah ngerti. Di dalam setiap hati manusia, ada
sisi jahat dan baik
yang terus bertempur sampai pemiliknya mati. Dalam hal ini, aku
adalah sisi baik kamu, sementara Dark Aurora adalah kebalikannya.
Rama, kamu berdiri di
antara kami berdua, dan itu artinya siapa yang akan menang
tergantung dari keinginan kamu. Kalau kamu biarin pikiran kamu
dikuasai dan dikendalikan sama
sisi jahat hati kamu, maka kamu bakal jadi seperti apa yang dia
bilang. Rama, berbuat kesalahan di masa lalu bukan berarti kamu
nggak bisa memperbaikinya,
nggak berhak dapet kebahagiaan, nggak berhak untuk disayangi oleh
orang lain..."
Rama: "Ja...jadi, elo udah tau...?"
Wahita: "Rani, iya kan? Karena banyaknya pengalaman buruk yang kamu
alamin, dan ngerasa kalau kamu punya banyak kekurangan bikin kamu
mikir kalau selanjutnya
kamu hanya akan menemui lebih banyak lagi hal seperti itu...? That's
NOT TRUE, my little master! You haven't tried it yet! Besides, semua
hal2 menyakitkan
yang udah pernah kamu rasain harusnya bisa membuat kamu lebih kuat
lagi. Masih inget pelajaran berharga yang kamu peroleh waktu kamu
kehilangan?"
Rama: "Lapang dada, menyerahkan semuanya kepada Allah... Semua yang
ada di dunia ini hanyalah barang titipan, jadi datangnya sama dengan
perginya. Kalau
gue siap untuk memiliki, gue juga harus siap untuk kehilangan..."
Wahita: "TingTong! Tuh udah tau? Jadi gimana, mau lanjut? Kalau
jawaban kamu YA, sok atuh, ilangin deh pikiran2 buruk itu dari
kepala kamu!"
Rama: "Yeah, thanks..."
Wahita: "Sekarang, ambil air wudlu dan shalat, supaya pikiran kamu
lebih tenang. Dengan begitu, kamu bakal dapet petunjuk dari Allah,
sekaligus ngebantu
aku MENANG bertempur ngelawan Dark Aurora. Ayo Rama, semangat!!!"
--------------------------------------------------------------------------------
STEP AHEAD
Akhirnya gue berhasil lolos juga dari mimpi buruk itu. Selanjutnya,
gue coba membangun semangat di hati, dan disini, lagu THEME OF JUNO
dari game Ragnarok
Online berperan banget. Tiap kali gue mulai putus asa, gue coba
dengerin lagu itu dan berpikir tentang diri gue yang kuat dan tegar.
Di dalam THEME OF
THE JUNO, juga ada sesuatu yang indah, sebagai tanda kalau gue juga
berhak menerima kebahagiaan. Seburuk apapun gue, gue nggak boleh
berhenti mencoba.
Kalau gue berbuat kejelekan, namanya juga manusia, iya kan? Bener,
manusia nggak ada yang sempurna, tapi yang membuat manusia itu
sempurna adalah waktu
kita mau berusaha untuk jadi manusia yang seoptimal mungkin...!
Kadang jadi pengen senyum sendiri kalau inget trik2 kecil yang
diajarin Vany untuk nyampein perasaan gue ke Rani secara nggak
langsung. Dia nyuruh gue untuk
pura2 salah kirim SMS yang isinya curhatan gue tentang perasaan gue
ke Rani. Terus seperti itu, sampai akhirnya dengan mantap...gue
tulis SMS ini...
"Rani, mau kan jadi pacarku?"
--------------------------------------------------------------------------------
14 Oktober 2004
Wahita: "Elo yakin, Ma?"
Rama: "!!!...!!!...!!!" *nggak nyaut karena dengerin lagu THEME OF
JUNO (Ragnarok Online) di walkman dengan volume MAXIMUM*
Wahita: "Hei...! Denger nggak SEEH!? Jadi pergi ke Bandung nggak!?"
Rama: "!!!...!!!...!!!"
Wahita: *dalam hati* "Wah wah wah, kurasa ini bakal jadi lebih gawat
daripada perjalanan tahun lalu. Tapi aku bersyukur karena dia udah
bisa menutup cerita
'KARIMA - TO BE WITH YOU' dan kembali bersemangat. I am happy for
you, Rama... Semoga...h...HEIII!!!"
Rama: *naik ke bus jurusan Bandung* "Lama amat sih bengongnya? Cepet
dikit dong!"
Wahita: "Seenaknya aja kasih perintah! Aku udah panggil2 kamu dari
tadi tapi kamunya malah asyik sendiri!"
Rama: "Lho? Bukannya peri macem kamu tuh harusnya udah ngerti?
Heran, kok nggak kayak peri di TV2 ya?"
Wahita: "JANGAN CEREWET!!! Pagi2 udah ngajak berantem! Harusnya kamu
bersyukur karena aku udah mau nemenin kamu! Aku bisa jadi penuntun
kamu, bisa jadi
mata ketiga kamu, bisa ja..."
Rama: "Tapi percuma, soalnya kamu nggak bisa bacain SMS, nggak bisa
teleport langsung ke Bandung, jadi gue nggak perlu repot. Bener2
beda ama peri di TV,
PAYAH!"
Wahita: "!!!!!!!!!!!!!!!!"
Gue masih inget gimana senengnya gue pagi itu, sampai2 gue berangkat
tanpa sempet bersihin sarapan di pipi. Hari ini, Kamis 14 Oktober
2004...gue bakal
ketemuan sama Rani! Hehehe, sekarang nggak perlu lagi ngamen dan
nyeberang laut segala, cukup naik bus eksekutif dan dalam waktu tiga
jam gue ud...
Wahita: "Iya, tapi cowok kere yang satu ini, saking pengen ketemunya
ampe rela minta ongkos sama cewek yang mau ditemuinya! Alasannya sih
buat beli peralatan
komputer, tapi sebenernya...emang karena bener2 nggak punya
duit...IYA KHAN? IYA KHAN?" *grin*
Rama: "Shut up, will ya? Seenaknya aja nyelak omongan orang!"
Wahita: "Maaf, maaf, iya deh...! Sekarang kita udah ada di Bandung,
Ma."
Rama: "Gue siap. Tolong aktifin aura gue, maximum!"
Wahita: "Roger! Activating Rama's aura, reaching maximum capacity!
Rama, you have clearance!"
Rama: "Makasih, Ta! Hmmm, I got it! Setelah turun dari ANGKOT
ini...50 meter belok ke kiri, lalu 150 meter tepat di depan McDonald
BIP. Ta, tolong periksa
pulsa ponsel gue, apa masih cukup untuk miskol?"
Wahita: "Affirmative! Scan complete, resume tracked! Yup, you can do
it!"
Akhirnya, gue ketemu FACE-TO-FACE juga sama cewek pemilik rambut
keriting nan kruwel yang hobby main basket itu. It was just like
what I have imagined!
We did a lot of things, until the time of judgement came up...
Rani: "Iya, kayaknya kamu emang nggak usah GR deh sama perasaan
kamu..."
Rama: *to Wahita* "Tuh kan? Gagal? Pasti deh dia mau bilang...dia
mau bilang...(Lagu THEME OF JUNO yang terngiang di telinga nadanya
mulai kusut)"
Wahita: "Shhh, tunggu dulu! Dia belum selesai ngomong!"
Rama: *to Rani* "Jadi...nggak bisa?"
Rani: "Justru KEBALIKANNYA!!!"
Kalau nggak inget pesen nyokap untuk bertingkah sedewasa dan
senormal mungkin di tempat umum, pasti hawa lonjakan gembira yang
udah kayak roket itu bakal
gue turutin. Tau deh gimana kalau sampai itu terjadi...!
Akhirnya gue pulang dengan perasaan bahagia, meskipun cuma makan
malem pakai sekantung cokelat yang dikasih Rani, dan harus ikut
ngedorong bus yang mogok,
gue tetep ngerasa seneng... Kenangan ini, bakal jadi kenangan
paling manis tahun ini, sebelum gue mulai puasa Ramadhan...
Wahita: "Deuh, senengnya! Boleh aku tau, apa sih yang kamu mau dari
Rani?"
Rama: "To put her tears away, to make her happy, and...to have more
and more chocolate!"
Wahita: "...dan kamu mau dia tetep bersemangat dan selalu tersenyum,
iya kan?"
--------------------------------------------------------------------------------
THE TRUTH ABOUT RAMA
Rani, makasih atas semuanya... Perlu kamu ketahui kalau Rama ini
cowok yang banyak kekurangan, Rama malah nggak pernah kepikiran
untuk ngomongin sesuatu
yang baik dari Rama, karena yang Rama inginkan adalah menunjukkan
Rama yang apa adanya, yang banyak keterbatasan dan nggak sempurna.
Tapi sebisa mungkin
Rama akan berusaha untuk nggak tergantung sama orang lain, bisa
berdiri di atas kaki dan semangat sendiri, dan yang terpenting,
bikin orang2 yang Rama
sayangi ngerasa bahagia... Untuk kebaikan diri Rama, biarlah orang
lain yang menemukannya sendiri...
Wahita: "Jadi sekarang gimana nih Ma? Should I say: TO BE CONTINUED,
or THE END?"
Rama: "Tergantung deh, hehehe...! Kita tunggu aja bareng2 kelanjutan
artikel ini, okay!?"
