SURAT UNTUK SANG BELAHAN JIWA
Kepadamu, sang belahan jiwa...
Kutulis surat ini, ketika diriku merasa telah siap dan yakin untuk
menyatakan bahwa engkaulah belahan jiwaku... Belahan jiwa, kata-kata
indah tanda tautan
hati yang mungkin bukanlah pemasti ikatan resmi atau jodoh. Namun,
belahan jiwa, yang pernah membuatku merasakan semua rasa, yang
pernah membuatku mengikut
dirimu punya rasa... Kepadamu, kupersembahkan untaian kelasi
tertulus dari lubuk hatiku yang paling dalam...
Ketika Allah menakdirkan kita bertemu, aku tak pernah menduga kalau
aku akan merasai banyak bumbu-bumbu hidup darimu. Ada bahagia,
derita, bahkan murka
dan nista. Semua campur aduk jadi satu, berbaur dengan cerita dan
peristiwa yang menjadi huruf-huruf perangkai kata dan kalimat dalam
cerita kehidupanku.
Kau buat aku tersenyum, kau buat aku menangis. Kau buat aku gembira,
kau buat aku putus asa. Kau buat aku mencintai, kau buat aku
membenci. Entah yang
mana yang menang, bahkan hingga saat aku menuliskan surat ini. Tapi
yang jelas, aku masih dan akan tetap memujamu.
Aku dan hidupku... Mata gaib Allah tentu tahu kalau diriku ini penuh
hina dan nista. Mengetahui hal itu, aku bertekad menjadi Aurora bagi
semua orang,
bercahaya demi siapa yang butuh pencerahan, meskipun diriku harus
menahan derita dan siksa tanpa ada yang mengetahuinya. Aurora,
laksana malaikat tanpa
cacat cela, dipuja dan didamba setiap raga yang menginginkan peluk
sandar penopang lemahnya nyawa. Namun, ketika aku bertemu denganmu,
semua terkuak...
Aurora, yang tak lain hanyalah simbol kekuatan bagi orang lain,
ternyata penuh dengan kegelapan dan kepekatan. Entah mengapa, aku
seperti mendapat kekuatan
untuk membuka kedok malaikatku di hadapanmu, melepas semua yang
ingin kurasa dan ingin kukata. Ketika aku ingin mencinta, tak
kuabaikan dirimu sedetik
pun meski aku harus meregang satu-satunya nyawa tak bercadang.
Ketika aku murka, tak segan pula aku merobek, mengoyak, dan mencabik
dirimu, mungkin karena
aku ingin menjajal apakah engkau adalah malaikat yang sesungguhnya.
Semua telah kita lewati, dan engkau tetap seperti engkau... Aku malu,
kututupi wajah dan sekujur tubuhku yang hitam legam dengan pakaian
malaikatku. Namun,
aku merasa lega karena akhirnya aku terbebas dari belenggu itu,
pakaian malaikat yang laksana sebuah kutuk untuk jiwa yang terhina.
Aku, bebas...
Perlahan tapi pasti, aku mulai sembuh dan bersih. Kelembutan dan
kasih sayangmu terus membasuh luka dan kesakitanku. Meski terkadang
aku harus menahan
sakit manakala aku "terpaksa" harus meneguk ramuan obat jiwa yang
terasa "mematikan" bagiku, tapi aku tetap bertahan...
Terima kasih kusematkan pada namamu. Kini, aku merasa "lebih baik"
dari sebelumnya. Setidaknya, aku dapat menikmati apa yang kupunya
sekarang. Aku tak
lagi harus berlindung di balik pakaian malaikatku, tapi hidup
sebagai manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. Meski hal
itu harus mengorbankan
kita berdua, aku bahagia...
Wahai belahan jiwa, kini aku yakin, kalau engkau memang belahan jiwa
yang diturunkan Allah untukku. Aku tak tahu apakah nantinya jalan
hidup kita akan
bertemu, entahlah... Hanya satu harapku... Seandainya engkau
bukanlah jodohku, semoga Allah mempersiapkan hati baru yang jauh
lebih kuat untuk menggantikan
milikku yang pastinya akan hancur. Namun, apabila aku memang
pasangan hidupmu,akan kumohonkan hidup bahagia untukmu dan aku...
Teruntuk: N4NDH4E
