YULIA

Aurora: 12/27/2005

Seorang gadis tengah menangis terisak di sudut sebuah kamar yang gelap dan lengang. Alunan musik melankolis dari sebuah audio player yang sengaja diputar
si gadis agar tak seorangpun mendengar tangisannya, seakan berduet dengan malam dan bulan yang juga ikut merintih. Tubuh mungil si gadis yang dibalut gaun
malam indah, yang membuatnya tampak seperti peri, tiba-tiba mengejang dan bergetar hebat, air mata mengucur deras di antara helai-helai rambut panjangnya
yang terjuntai menutupi wajah. Ia tertunduk dalam posisi tubuh setengah bersimpuh. Tangan kanannya menahan tubuh agar tidak jatuh, sementara yang satunya
lagi dipakainya untuk menutupi paras lugu yang menyimpan gurat-gurat derita tanpa pena. Sudah sejak sore, sejak lima jam yang lalu, sejak sepuluh jam setelah
makan terakhirnya, Yulia, begitulah nama singkat gadis malang itu, terus menangis seperti itu…

Tak ada suara lain… Yang ada hanya isak tangis pilu Yulia. Terus…isakan-isakan itu terus berulang-ulang. Setiap tarikan nafas terasa begitu pedih dan menyakitkan,
mungkin seperti mata pisau tak kenal rasa yang menyayat-nyayat sampai ke ulu hati, melumati segala yang ditikamnya. Sebuah tangis tanpa suara, sebuah tangis
yang berusaha meneriakkan makna hati yang tak pernah tertuturkan. Makna hati yang terpenjara dalam kandang laknat yang tak memberikan sedikit celah pun
untuk suara hati Yulia.

“Aku ingin pergi dari sini…,” bisik Yulia lirih. Suara itu begitu lemah, nyaris tak terdengar. Kata-katanya pun terdengar teratur dan berirama, santun
laksana kelasi yang keluar dari mulut seorang puteri raja. Benar, itulah yang telah diajarkan kandang laknat padanya, agar selalu menjaga apapun, bahkan
ketika hendak mengucapkan sebuah kata.

Benar. Gadis ini terpenjara lahir batin. Selain dipasung aturan-aturan yang menurut gadis seusianya, sangat tidak manusiawi, ia pun harus merelakan kebahagiaan
masa mudanya tergembok dalam jeruji besi kandang laknat tempatnya tinggal. Bukan, ilustrasi ini bukanlah hardikan, atau lebih tepatnya tuntutan tanpa alasan,
pasalnya menurut penuturan gadis itu, ia adalah anak yang baik dan penurut. Tak sedikit pun terbersit dalam hatinya untuk melanggar atau melawan norma-norma
kemanusiaan, bahkan pada mereka yang jelas-jelas bukan perantara asal-muasal gadis ini. Pintanya, kiranya ia dapat memperoleh kebebasan yang sewajarnya,
bukan kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan untuk menentukan apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya dilakukan.
Ya, setidaknya kebebasan yang baik menurut pemahaman gadis seusianya…

Yulia jarang sekali keluar rumah. Jangankan pergi ke taman hiburan atau mall, atau gedung bioskop yang hingga saat ini belum pernah didatanginya, untuk
pergi ke tempat-tempat bernorma semacam pengajian remaja, atau tempat belajar kelompok pun perlu surat ijin khusus yang terpaksa dibubuhi tanda tangan
kebohongan.


Yulia mendekap dadanya, berharap lamunan dan kenangannya dapat membawa dia kabur dari kandang laknat itu, kabur dari malam yang kian lama kian membuat
dadanya sesak. “Bawa aku pergi,” pintanya lirih…

Sebentar saja, lamunan Yulia telah lepas landas, melayang terbang ke lima belas jam yang lalu, ke sebuah pagi cerah berhias senyum merekah sang surya.
Lalu, kenangan itu hinggap di sebuah bangunan kampus penuh dengan mahasiswa-mahasiswi yang tengah bercakap-cakap. Di antara mereka tampak sosok Yulia.
Berbeda dengan ketika berada di kandang laknat, kini Yulia tampil dalam busana perlente, mirip gadis tomboy yang siap bertualang. Dengan bercelana pendek,
kaus dan topi, serta tatanan rambut yang disetel seadanya, Yulia berlari-lari kecil, berpindah dari satu mahasiswa ke mahasiswa lain. Ia tengah bersenda
gurau dengan rekan-rekannya. Wajahnya ceria, ia tertawa lepas, suaranya yang melengking keras bagai guntur berbaur dengan lengking tawa anak-anak perempuan
yang lain. Suara itu, barangkali, ingin memuaskan birahinya karena ketika berada di kandang laknat kemaluannya disumbat dengan pakaian yang disebut norma
dan tata krama.

“Hahahaha!!! Aku senang!!! Persetan dengan peraturan-peraturan bedebah itu! Yang penting sekarang aku bebas! Hai tolol, ayo ikut bersenang-senang denganku!
Kau kunyuk, kenapa wajahmu terlihat begitu tengik, hah!? ##&)^%^**)&$^*!!!” Kiranya sangat tidak bijaksana untuk tidak melakukan sensor pada kalimat terakhir
yang diucapkan Yulia tadi, karena bukanlah sebuah pembelajaran yang baik untuk gadis-gadis seusianya…

Di kesempatan lain, Yulia tampak cengengesan di hadapan seorang dosen yang menegurnya lantaran Yulia belum mengurusi administrasi kampusnya. “Ah, baru
lima bulan kan Bu, belum lima abad,” tukas Yulia acuh. Tanpa piker panjang, dosen itu langsung menyarangkan tinju berupa fonis hukuman kea rah Yulia, dan
lagi-lagi gadis itu tak peduli. Sebenarnya bukannya tak mau peduli, tapi mana mungkin ia mampu peduli bila penjaga kandang laknat yang diberi amanat mengurusi
dan bertanggungjawab penuh terhadap Yulia pun tak mau lagi peduli, dan gadis itu terpaksa harus pasang muka tembok ketika urusan administrasi serta segudang
masalah akademis kampus menggonggong dan menyalakinya setiap bulan.

Begitulah. Dari potongan hari yang lain, ketika Yulia berada di luar kandang laknatnya, ia berubah menjadi karakter yang sangat bertolak belakang. Birahi
kebebasan Yulia seakan ingin mereguk tetes-tetes kemerdekaan yang terus mengalir, yang akan segera tersumbat manakala ia harus kembali pulang ke kandang
laknatnya. Terlepas dari belenggu norma dan moralitas, peri cantik itu berubah menjadi jagoan jalanan yang tak pandang aturan.

Dalam petualangannya, Yulia bertemu dengan seorang ksatria berpedang yang membuatnya jatuh hati. Meski dirinya masih berwujud jagoan jalanan, ternyata
mata pedang ksatria itu mampu mengenali sosok asli Yulia. “Sayapmu indah, gaunmu pun mempesona,” puji sang ksatria sambil tersenyum. Suaranya yang empuk
dan tenang membuat Yulia salah tingkah dan tak mampu menjawab.

Perkenalan Yulia dengan ksatria berpedang itu ternyata membawa perubahan baru dalam hidupnya. Sesekali Yulia mencuri waktu untuk bertandang ke istana sang
ksatria guna melepaskan beban hati atau mengobati luka jiwa. Sesekali ksatria berpedang itu pun menjenguk Yulia dari balik jeruji kandang laknat. “Maaf,
pedangku belum cukup tajam untuk dapat membebaskanmu dari sini,” ujar sang ksatria sedih.

Namun, dunia peri dan ksatria adalah dua dimensi yang jauh berbeda. Tongkat sihir dan pedang tajam, kelembutan dan kekasaran, sudah barang tentu adalah
hal-hal yang berbeda satu dengan yang lain. Seorang peri yang lembut dan lemah sangat mendambakan ksatria yang kuat dan tegar, sementara ksatria yang terbiasa
hidup dalam kekerasan pun mendambakan seorang peri yang penuh kasih sayang dan setia padanya. Jadi, wajar saja kalau sesekali mereka pun bentrok, ingin
memperoleh apa yang diingininya.

Pernah juga terjadi, manakala sang ksatria ingin memastikan wujud asli Yulia, ia terpaksa harus menggoreskan pedangnya dan melukai kulit sang gadis. “Katakan
padaku, siapa engkau sebenarnya,” pinta sang ksatria dengan suara lantang. “Aku tak ingin dan muak dengan wujud palsumu,” kembali ksatria berseru dan menggoreskan
ujung pedangnya ke kulit Yulia. Gadis itu mengaduh, beberapa helai sayap peri melayang jatuh setelah tersayat pedang sang ksatria. Yulia diam tak melawan.
Dibiarkannya darah menetes dari luka-luka di sayapnya. Lalu, kembali ia menangis, persis seperti ketika berada di kandang laknat. Ksatria tersentak. Ia
baru menyadari kalau sosok yang ada di hadapannya berbeda dengan mereka yang pernah melukai masa lalunya dengan kebohongan-kebohongan. Sejenak ia merenung,
meminta kepada Tuhan apakah Yulia, sosok dua dunia yang ada di hadapannya itu adalah benar-benar seorang peri.

“Maafkan aku… Aku hanya tak ingin peri kecilku menjadi sosok yang lain, sosok yang penuh kebohongan dan tak disukai orang lain…” Ksatria tertunduk, pedangnya
lepas dari genggaman dan ia jatuh terduduk, berlutut di hadapan Yulia yang kembali berwujud peri. “Percayalah padaku, aku sangat menyayangimu… Kumohon,
lindungi aku…” sahut Yulia lirih. Sejenak ia kehilangan keseimbangan, tubuhnya limbung sebelum akhirnya jatuh dalam pelukan ksatria. Keduanya berdekapan
dalam satu rasa, saling menyembuhkan dan memulihkan satu sama lain…

Setelah keduanya pulih, mereka pun bertualang. Dengan pedangnya, ksatria selalu jadi benteng terdepan manakala kesedihan dan penderitaan menyerang Yulia,
sementara dengan sayapnya Yulia mampu membawa ksatria terbang mengarungi dunia yang disebut kebahagiaan.

“Wahai peri, kenapa kau tak coba gunakan kelembutanmu untuk bicara pada mereka? Kurasa kau telah cukup umur untuk mengungkapkan semuanya. Atau, sebaiknya
kau kembali ke gubukmu,” tanya ksatria saat keduanya tengah mengangkasa di langit senja. “Ah, aku takut. Lagipula kandang laknat itu telah lama menghidupiku,
jadi aku harus membalas budi. Tapi kalau aku sudah tak tahan lagi, aku pasti kembali ke gubukku,” sahut Yulia sambil terus mengepak-ngepakkan sayapnya,
terbang menikmati belaian angin sore dan pelukan sinar matahari yang hamper tenggelam.
Adalah sebuah keputusan yang bijaksana untuk kedua insan muda ini, ketika keduanya sama-sama memilih untuk mengedepankan pemikiran dan pertimbangan di
atas emosi. Ksatria yang ingin melihat sosok asli Yulia, tentu tak dapat memperolehnya secepat mie instant siap saji. Ia harus bersabar dan membimbing
Yulia, karena walau bagaimanapun jiwa jagoan jalanan telah menjadi bagian hati gadis itu. Yulia pun perlu cermat-cermat berhitung, karena jika ia memutuskan
untuk kembali ke gubuk tempat ia dilahirkan, kehidupannya akan berubah. Disamping itu, tak dapat dipungkiri bahwa kandang laknat memiliki banyak hal yang
masih dibutuhkannya, yang tak akan diperolehnya jika ia harus kembali ke gubuknya.

“Yulia…!” Tiba-tiba terdengar suara keras yang berasal dari luar kamar. Bbentakan itu telah membuyarkan lamunannya, petualangannya di kampus sebagai jagoan
jalanan, pertemuannya dengan ksatria berpedang, dan pengembaraannya di angkasa senja yang indah. Saat itu juga, kenangan lima belas jam yang lalu cepat-cepat
kembali kea alam sadar pikiran Yulia. Karena sudah terbiasa dengan panggilan-panggilan semacam ini, Yulia tak tampak terkejut. Ia bangkit dan menyeka air
matanya. “Ya?”, sahutnya lembut. Dibukanya pintu kamar dan ia melangkah ke luar, menemui seorang lelaki bersuara tegas, yang cirri-ciri fisiknya tak lagi
perlu digambarkan, karena siapapun dapat langsung melihatnya dari apa yang Yulia alami, apa yang laki-laki itu telah buat… “Keluar kamu! $$$#7^())_&*)*^%!!!!!"