RAMADITYA ON SCTV
Pemunculan seorang penyandang cacat di televisi
pasti sudah menjadi sebuah tontonan yang kerap kali mencengangkan
orang "normal." Biasanya, sebuah stasiun
televisi bakal menayangkan kelebihan yang dimiliki sang penyandang
cacat yang tidak dimiliki orang normal, atau musibah yang diderita
yang tidak diderita
oleh orang normal. It goes just the same for me.
Sebenernya sudah beberapa kali stasiun televisi berkenan menayangkan
tentang bagaimana kehidupan seorang "Ramaditya..." Tentang bagaimana
gue sebagai tunanetra
menjalani hidup ini, menyikapi kecacatan yang gue derita,
mempertahankan status sosial dengan tetap bersekolah dan mengenyam
pendidikan, atau melakukan
hal-hal yang biasa dilakukan orang normal (bekerja, bermain, pacaran
juga barangkali).
Sebenernya pula, gue nggak terlalu tertarik untuk menuliskan di
diary online ketika sebuah stasiun televisi menayangkan tentang gue,
atau media cetak yang
memuat artikel tentang gue. Kenapa? Sederhana, karena menurut gue
itu adalah hal biasa aja. Toh pembaca sudah bisa mengetahuinya lewat
artikel atau tontonan
itu sendiri. Alasan kedua, gue sendiri bukan tipe orang yang ingin
menonjol secara individu. Maksudnya, gue bukan semacam orang yang
suka "ini gue, liat
dong" gitu.
Lalu, kenapa kali ini gue memutuskan untuk memajang dan memberitahu
bahwa gue ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi? Ini adalah
alasan ketiga gue, yaitu
keinginan gue untuk menjadikan adanya gue sebagai rahmat bagi orang
lain... Karena pada penayangan yang kali ini dilakukan oleh SCTV,
gue merasakan pengaruh
yang besar terhadap pemirsa, dan ini untuk kali pertama gue
merasakan bahwa tayangan tentang gue itu nggak jadi sekedar tayangan,
tapi menjadi sesuatu
yang dapat berguna bagi orang lain...
Minggu, 1 Oktober 2006...di acara Liputan 6 Siang... Itulah saat
SCTV menayangkan profil tentang gue yang diambil sekitar seminggu
sebelumnya...
Apa saja yang ditampilkan? Bagaimana keseharian gue sebagai
tunanetra, lalu berbagai klip kehidupan yang bwuanywuak banggget!
Dalam acara itu, gue menjelaskan awal mula kelahiran gue sebagai
tunanetra. Disambung dengan komentar ortu yang diwakili bokap, yang
menyatakan bahwa meskipun
gue ini buta mata, tapi dengan terus shalat tahajud dan berserah
diri kepada Allah, minimal mata hati dan feeling gue dapat
menggantikan hilangnya fungsi
penglihatan gue. Dan gue akui, itu memang bener!
Gue juga sempat ceritakan gimana susahnya gue dalam kondisi seperti
ini. Kena hina, pernah jatuh dari ANKOT, dll. Tapi ya seperti yang
bokap gue utarakan
tadi, itu yang bikin gue tetep bertahan sampai sekarang.
Di acara itu juga ditampilkan komentar dosen gue, aktivitas kampus,
gimana gue memainkan musik dan mengoperasikan komputer, bahkan
komentar orang yang
saat ini mengisi hati gue...
Nah, ini saatnya menyampaikan dampak apa yang terjadi setelah
penayangan itu...
Gue nggak tau berapa banyak orang yang udah nelpon gue setelah acara
itu, kebanyakan dapat nomor telepon gue dari stasiun SCTV dan dari
website gue.
Ada Nizar, tunanetra yang baru beberapa tahun ini mengalami kebutaan,
padahal ia sudah sukses berkarir dan punya studio musik sendiri. Ada
juga Pak Martinus
dari Balikpapan yang punya putri kecil yang kondisi matanya juga
seperti gue, dan ingin tahu banyak tentang gue. Nggak ketinggalan
Pak Marwoto dari Malang
yang sepertinya menderita tunanetra di usianya yang lanjut, dan
masih banyak lagi.
Gue bersyukur kepada Allah karena dengan adanya penayangan itu
membuat orang lain jadi terbakar semangatnya. Dari mereka yang sudah
berkenan menghubungi
gue, gue bisa merasakan adanya titik2 harapan dan kemauan mereka
untuk kembali berjuang.
Komentar yang diajukan bokap gue pun jadi contoh dan bukti nyata
bahwa seorang anak cacat bukanlah beban dan derita manakala
orangtuanya mau memberi dukungan
penuh. Karena 80 persen semangat dan motivasi itu datangnya dari
keluarga.
Aktivitas berkomputer, bikin musik, dan menjadi jurnalis yang
ditayangkan pun bisa jadi jawaban bahwa kalau kita, dalam hal ini
penyandang cacat mau mencoba
dan bekerja keras, hal mustahil yang kelihatannya sulit itu bisa
dilakukan. Salah satunya adalah kecanggihan teknologi, yang nyatanya
juga telah menyokong
80 persen kehidupan gue.
Oh, dan bagian yang menampilkan tambatan hatiku.... Disitu orang pun
bisa melihat bahwa seorang cacat tak hanya bisa mendapat kekasih
orang cacat juga.
Masih banyak orang normal secantik dia (waduh, jangan GR ya) yang
berhati besar mau menerima orang2 seperti gue menjadi tambatan
hatinya. Jadi, bagi yang
ingin menjadikan seorang cacat sebagai tambatan hatinya, kiranya
dapat melihat contoh dari penayangan itu. Bagaimana caranya? Wajar
bahwa kalian akan merasa
malu ketika orang2 memperhatikan kekurangan pasangan kalian, tapi
cobalah untuk berpikir bahwa itu adalah ibadah, dan nantinya
kelebihannya akan muncul
dan membuat kalian bangga...toel gak!?
Dengan adanya penayangan seperti ini, gue berharap bahwa nantinya
media cetak maupun elektronik akan menemukan lagi beratus-ratus
orang cacat yang jauh
lebih hebat dan sukses untuk ditayangkan, bukan sekedar menayangkan
profil atau sinetron miris yang menggambarkan kalo orang cacat itu
sarat dengan penderitaan
dan bikin orang mengelus dada, "kasihan ya" dan melupakan tayangan
itu.
Untuk rekan2 penyandang cacat, kalau diijinkan gue cuma mau
menyampaikan pesan kecil. Hendaknyalah kita bersyukur kepada Tuhan,
apalagi kalo ada yang berkenan
mengangkat derajat kita lewat tayangan atau sajian. Buat orang
tercengang dan terkagum, tapi ingat...ada misi yang kalian emban,
yaitu memberikan pembelajaran
kepada orang normal tentang siapa itu penyandang cacat. So, jangan
rendah hati, jangan pula tinggi hati. Be normal, and head ahead!
Special thanks goes to Mbak Widya and the gang...
Silahkan download rekaman audio penayangan SCTV ini di bawah ini...!
http://www.ramaditya.com/mp3/rama-sctv.wav
