TUNANETRA MENCARI CINTA
"Kenapa sih kamu mau sama
dia?"
"Dia itu kan cacat?"
"Apa tidak ada pilihan lain yang lebih baik?"
Kita mungkin sering mendengar ungkapan-ungkapan semacam itu, atau
mungkin kita sendiri yang mengutarakannya, ketika kita menjumpai
pemandangan berikut;
seorang yang diberi kesempurnaan fisik yang hendak atau tengah
menjalin hubungan (apapun bentuknya) dengan penyandang cacat (apapun
jenis kecacatannya).
Nah, tentunya akan menjadi sebuah kajian sosial yang teramat panjang
dan luas apabila kita hendak membahasnya secara global. Bagaimana
kalau sekarang,
kita ikuti ulasan pribadi penulis, yang mana pada kesempatan ini,
ruang lingkupnya kita persempit menjadi sebuah topik yang barangkali
akan membuat Anda
tersenyum...
"Tunanetra mencari cinta..."
-Penulis: Aurora (pria, tunanetra)-
"Soal gampang bagi tunanetra kalau diminta mencari cinta, tapi
perkara sulit bagi mereka untuk menemukan uang yang jatuh di jalan."
Begitulah kira-kira
ungkap salah seorang rekan penulis, yang notabene sama-sama merasa
yakin akan kebenaran ucapan tersebut, dan sama-sama percaya diri
bahwa kalimat tersebut
benar adanya. Parahnya lagi, kita berdua sama-sama tunanetra asli
yang tak dapat melihat indahnya wanita!
Lalu, apa hubungannya dengan kutipan yang kalau penulis tidak salah
"lihat" telah penulis letakkan di bagian atas artikel ini (sebelah
mana ya)? Tentu
itu berkaitan erat dengan kutipan-kutipan tersebut. Pasalnya,
menurut pendapat banyak orang, adalah sebuah kesulitan besar bagi
penyandang cacat, dalam
hal ini tunanetra, untuk memperoleh pasangan hidup. Proses tersebut,
yang diyakini banyak orang juga, memerlukan keteguhan hati dan
kekuatan mental.
Mengapa sulit? Mungkin jawaban atas pernyataan itu dapat kita
temukan dalam frase berikut ini. "Kalau A dan B memiliki fisik yang
sempurna, maka seharusnya
tak ada yang mempertanyakan atau mempermasalahkan bila A menjalin
hubungan (dalam hal ini, cinta) dengan B. Keduanya dianggap sempurna
karena memiliki
fisik yang sempurna, dan hal tersebut dianggap wajar. Maka, wajar
saja bila keduanya menjalin hubungan." Nah, jika Anda kesulitan
berpikir untuk menemukan
jawabannya, silahkan jawab dulu pertanyaan ini. "Wajarkah menurut
Anda, bila A atau B salah satunya memiliki kecacatan fisik, dan
mereka menjalin hubungan?"
OK, simpan jawaban Anda apapun itu, dan yakini terus sampai Anda
mati. Namun untuk kali ini, kita berasumsi bahwa jawabannya adalah "tidak
wajar."
Seperti sudah dijanjikan penulis, kita tak akan bicara yang
berat-berat dan sampai menjurus kesana-sana dulu. Marilah kita
sedikit "gaul" dengan mengikuti
sepenggal kisah penulis (25).
Di salah satu kisah cinta penulis, di sebuah sore yang indah (menurut
mata pasangan penulis waktu itu), banyak orang yang hilir mudik di
depan penulis
dan dia. Sebagian besar dari mereka (lagi-lagi kata pasangan penulis)
menyempatkan diri untuk berhenti sejenak sambil melempar pandang ke
arah kami berdua.
Ada yang menengok sambil tetap berjalan, ada yang memperlambat
langkahnya, bahkan ada pula yang sampai berhenti sama sekali. "Kamu
diliatin tuh," begitu
ungkap pasangan penulis. Proses "diliatin," yang penulis asumsikan
sebagai tindak memandang dalam durasi waktu yang agak lama dan
berusaha mengirimkan
pertanyaan lewat pandangan itu (silahkan lihat kembali tiga kutipan
di atas), ternyata cukup untuk menggelitik penulis. Tentu saja "diliatin,"
karena satu
dari dua orang yang mereka pandangi adalah penyandang cacat. Lalu,
penulis meminta pasangan penulis untuk duduk berdua di sebuah bangku
panjang bersandar.
Setelah duduk, penulis memejamkan mata dan berpose seperti orang
tidur. Apa yang terjadi? Mereka -- orang-orang yang hilir mudik itu
-- mendadak kehilangan
rasa tertariknya untuk memandangi kami berdua. Semua berjalan normal
seperti sedia kala.
Di kisah yang lain, yang baru-baru ini penulis alami dan cukup
membuat penulis untuk tersenyum sehari penuh, adalah pengalaman
ketika penulis hendak pergi
menemui pujaan hati di sebuah kota yang cukup jauh dari tempat
tinggal penulis. Saat penulis utarakan pada sang pujaan hati bahwa
penulis akan mengunjunginya,
sang pujaan hati berkonsultasi dengan salah satu rekannya. "Mungkin
Aurora jatuh cinta padamu! Wah, kamu ngasih harapan ya ke dia?
Sebaiknya jangan kasih
harapan kalau kamu nggak mau. Kalau aku jadi kamu, aku akan minta
dia untuk tidak datang kesini." Nyatanya, penulis -- sendirian --
tetap datang dan berhasil
merengkuh sang pujaan hati (baca: diucapkan dengan fakta) dan
kembali ke kota tempat tinggal penulis dengan selamat. Ternyata,
kata "selamat" itu digunakan
rekan sang pujaan hati untuk menanyakan kabar sang pujaan hati
setelah ia bertemu dengan penulis: "Bagaimana, kamu selamat?" Lalu,
apa yang membuat penulis
tersenyum hingga sehari penuh? Sabar, setelah ini penulis akan
menganalisa kedua kasus tersebut!
Pada kasus pertama, kita sama-sama mengetahui bahwa pasangan yang
ada di sore yang indah itu salah satunya adalah penyandang cacat.
Nah, kita telah berasumsi
bahwa kebanyakan orang menganggap hubungan tersebut tidak wajar,
karena salah satu pelakunya adalah orang cacat, yang notabene
dianggap berbeda, atau "aneh"
(ungkapan yang agak ekstrim). Orang-orang yang hilir mudik tadi --
yang melakukan proses "ngeliatin" -- melakukan itu karena menangkap
adanya perbedaan
dalam pasangan yang diperhatikannya. "Kenapa matanya ya?" "Ih
pacarnya normal, kok mau ya jalan sama orang buta?" Begitulah
barangkali pertanyaan yang
terlontar saat orang-orang itu "ngeliatin." Rasanya sedikit orang
yang bertanya atau menyatakan "Salut, mereka pasangan yang hebat"
saat melakukan proses
"ngeliatin" itu. Lalu, mengapa orang-orang tidak "ngeliatin" ketika
penulis berpose seperti orang tidur? Karena begitu penulis
memejamkan mata dan berpose
seperti orang tidur, orang-orang tak dapat menemukan perbedaan dalam
diri penulis. Dengan kata lain, mereka tak tahu kalau penulis
tunanetra dan menganggap
bahwa pasangan yang duduk di bangku itu wajar-wajar saja.
Lalu bagaimana dengan kasus kedua? Sebelumnya penulis mohon maaf
apabila penulis tak dapat menyodorkan data otentik, tapi sudah
menjadi rahasia umum bahwa
kekurangan seseorang -- dalam hal ini soal fisik -- kerap kali
membuat banyak orang memutuskan untuk ikut mengurangi kualitas diri
sang berkekurangan fisik
itu. Misalnya, karena tunanetra, orang cenderung menganggap penulis
berprofesi sebagai tukang pijat (karena umumnya tunanetra memang
tukang pijat dan profesi
itu dianggap rendahan, jadi tunanetra itu rendah, mau bagaimana
lagi?), dan yang paling ekstrim, ada yang pernah bilang begini pada
penulis; "Dia buta?
Kalo bales SMS gimana bisa? Kalo kawin gimana mainnya?" Nah, kembali
ke kasus. Masih ingat pernyataan rekan sang pujaan hati? Disini,
penulis berasumsi
bahwa apabila penulis datang menemui sang pujaan hati, maka sang
pujaan hati akan menerima kerugian akibat kedatangan tersebut
(repot, takut menyakiti
perasaan penulis, atau alasan lain). Siapa yang menyangka kalau
ternyata hati penulis dan pujaan hati bertaut, dan ketakutan yang
diresahkan rekan sang
pujaan hati itu tak pernah terjadi (kalau boleh sedikit narsis, tak
pernah terpikirkan oleh kami berdua)?
Berdasar pada dua kasus di atas, kita saksikan sebuah keadaan dimana
hubungan cinta antara orang normal dan orang cacat telah mengundang
pandangan yang
bermacam-macam. Bukan maksud hati ingin memilih, tapi kali ini
penulis ingin fokus pada pandangan yang sifatnya negatif, seperti
telah dipaparkan di atas.
Kita menyaksikan bahwa kebanyakan orang masih menganggap aneh
hubungan semacam ini, dan dimana tingkat keberterimaan atas hubungan
semacam ini masih rendah.
Menurut penulis, keadaan semacam ini terjadi karena kurangnya
informasi dan pandangan positif dari pihak yang menganggap dirinya
normal, dalam hal ini,
orang yang sempurna fisiknya. Informasi yang dimaksud adalah tentang
bagaimana orang cacat itu, dan pengetahuan bahwa pada dasarnya yang
kurang dari penyandang
cacat hanyalah fisiknya saja (baca: pernyataan terakhir tidak
mengikutsertakan pengaruh lingkungan terhadap sang penyandang cacat
yang akhirnya membentuk
kepribadiannya)
Mengingat penulis tidak mengetahui seluruh informasi tentang seluruh
orang cacat yang ada di dunia ini, marilah kita mengambil contoh
diri penulis sendiri.
Jadi, selanjutnya adalah komentar yang merujuk langsung pada diri
penulis sendiri.
Untuk diketahui saja, penulis adalah tunanetra (buta), namun
berkeyakinan bahwa itu hanyalah "kesalahan teknis" semata (karena
ada kesalahan fisik, mata
tak dapat melihat). Dengan kata lain, penulis tak pernah
mempermasalahkan kebutaan yang penulis miliki, dan menempatkan
masalah kesalahan teknis itu pada
tempat yang sewajarnya (kalau tidak bisa menyeberang ya minta
tolong, kalau tidak bisa membaca ya minta dibacakan, kalau tidak
bisa kawin ya minta tolong
isteri untuk mengajari, dll).
Jadi, kita berasumsi bahwa tak ada masalah dengan hal-hal lain, tak
terkecuali urusan cinta. Penulis tetap mengikuti kompetisi tanpa
perlu mengkuatirkan
soal kecacatan yang penulis miliki. Penulis berhak jatuh cinta dan
menyatakan perasaannya, punya kans untuk memenangkan hati seseorang,
pun OK-OK saja
untuk menerima kekalahan dan ditolak, dan tentu saja berkesempatan
untuk mencoba lagi.
Sekarang, gilirannya menjawab tiga contoh kutipan di bagian atas
artikel. Menurut hemat penulis, pertanyaan "kenapa sih kamu mau sama
dia," "dia itu kan
cacat," dan "apa tidak ada pilihan yang lebih baik" perlu dijawab
dengan sangat bijaksana. Hal ini tentu terkait dengan orang normal
yang menjadi pasangan
penulis.
Seperti telah kita ketahui, kecuali mata yang tak berfungsi, penulis
adalah manusia yang normal lahir batin, dan tentu saja berhak
mendapatkan cinta. Perihal
kenapa seseorang mau menjalin hubungan dengan penulis, apa salahnya?
Penulis cacat, bukankah penulis ini normal soal cinta? Lebih baik,
apakah mata dapat
menentukan pribadi seseorang itu lebih baik atau tidak?
Sebagai penegasan atas normalnya diri penulis (lagi-lagi tidak
mengikutsertakan cacat yang penulis derita), penulis juga makan nasi
dan minum air, bisa
tertawa dan menangis, punya gaji tetap dan sedang membayar cicilan
rumah (alhamdulillah), dan tentunya lebih dari sekedar waras untuk
menggarap artikel
ini.
So, setelah melihat contoh dalam diri penulis ini, apakah Anda masih
berpikir bahwa salah/terlarang/tidak pantas/aneh/tidak boleh/haram
adanya, jika penulis
mencintai seseorang yang normal, atau orang normal mencintai diri
penulis? Tentu saja penulis tak mengharapkan jawaban apapun, kecuali
pernyataan pasangan
penulis yang dengan setulus hati berkata, "Aku memilihmu bukan
karena iba dan kasihan padamu, tapi karena kamu adalah sosok yang
membuatku bangga..."
Demikianlah kiranya artikel singkat dari penulis. Sengaja memang,
penulis tak membuat solusi tentang apa yang harus dilakukan
selanjutnya, karena penulis
ingin memberi kebebasan pada pembaca untuk berpikir, setidaknya
memperluas cakrawala pandangan, bahwa ternyata masih ada dunia lain
dari penyandang cacat
yang perlu dijamah dan dipelajari.
Kiranya masih banyak sub pembahasan mengenai hubungan antar
penyandang cacat dan orang normal, atau sebaliknya, atau sesamanya.
Dengan senang hati, penulis
akan membuat artikel-artikel lanjutan setelah ini.
Sampai jumpa!
CATATAN: Analisa dalam artikel ini adalah murni pemikiran individu
penulis. Mohon untuk berhati-hati jika hendak menerapkannya pada
penyandang cacat lain.
