ANDAI AKU "TUNANETRA" PUNYA ASUS EEE PC

CATATAN: Catatan dalam blog ini ASLI ditulis oleh tunanetra. Apabila dibutuhkan pembuktian secara langsung, penulis bersedia untuk bertanggungjawab...!

Sebagai blogger dan jurnalis tunanetra, sudah barang tentu aku menjadikan kegiatan "baca tulis" sebagai rutinitas
sehari-hari. Mengingat jenis pekerjaanku yang menuntutku untuk "mobile" alias berpindah dari satu tempat ke tempat lain,
maka laptop-lah yang kupilih sebagai pendamping setia. Sebuah laptop yang tak harus "powerful," tapi cukup ringkas untuk
dibawa kemana-mana.

Sekali lagi, karena aku adalah seorang tunanetra, maka laptop yang memiliki ukuran cukup besar sangat mengganggu
pergerakanku. Maklum, rasanya bukan tunanetra tulen kalau tidak menabrak sesuatu tiap harinya. Alhasil, laptop kesayanganku
yang beratnya melebihi 2kg dan berlayar 14 inci ini pun sering menjadi tameng pelindung saat aku menabrak sesuatu. Sebagai
hasilnya, casing laptopku jadi penuh baret-baret dan retak-retak.

Selain itu, aku pun tak terlalu sering menggunakan fasilitas-fasilitas seperti drive optikal atau hard disk yang terlampau
besar, karena untuk aktivitas berkomputer yang terlalu "berat" seperti mengkonversi file atau membuat musik, aku lebih
memilih menggunakan PC. Tak heran kalau kondisi drive optikal laptopku masih prima dan ruang hard disk pun baru terpakai
seperdelapannya saja.

Sempat aku berkhayal; Seandainya saja aku bisa memangkas tubuh si laptop, menghilangkan fasilitas-fasilitas yang tak
kuperlukan, sehingga menjadikannya lebih ringan dan efisien, tentunya akan sangat memudahkan pekerjaanku. Selain itu,
seandainya layar laptopku berukuran lebih kecil (kalau bisa di bawah 12 inci, atau tidak perlu pakai LCD sama sekali
mengingat aku tunanetra), tentu aku akan lebih mudah melindungi laptopku agar tidak ikut terbentur ketika aku bermobilitas.

Tak kusangka, khayalanku itu akan menjadi kenyataan, meskipun caranya yang berbeda. Ternyata, bukan laptopku yang harus dipangkas, tapi aku harus mengganti perandaianku sebelumnya dengan perandaian baru!

Semua itu berawal ketika aku memperoleh informasi via internet -- pertengahan tahun 2007 -- tentang Asus EEE PC, laptop
mungil besutan Asus. Waktu itu, aku terpana membaca spesifikasi laptop dan harga yang ditawarkan. Keduanya sama sekali berada
di bawah laptop milikku sekarang. Tapi, yang paling membuatku terkejut adalah ketika mengetahui ukuran layarnya yang hanya 7
inci, dan beratnya yang tak sampai 1kg.

Lagi-lagi aku harus mengira-ira seperti apa bentuk laptop EEE yang punya kepanjangan "Easy to Learn, Easy to Work, Easy to Play" ini. Pasti bentuknya mungil serta ringan, sehingga mudah dibawa-bawa.

Namun, dengan hanya membayangkannya saja sudah cukup untuk melahirkan satu perandaian lagi. "Seandainya aku punya Asus EEEE PC, aku akan..."

Lama sekali aku memikirkan hal-hal apa saja yang ingin kumasukkan dalam titik-titik di perandaianku, dan merealisasikannya segera setelah Asus EEE PC menjadi milikku. Untunglah,perandaian itu tak akan sia-sia, karena Asus EEE PC akan mulai beredar di Indonesia Januari 2008 ini!

Jadi, apa yang akan aku lakukan dengan Asus EEE PC?

1. Tampil Nyentrik!

Apa yang ada dalam benak Anda kalau melihat seorang tunanetra mengoperasikan sebuah laptop? Heran, tentu saja. Selain karena tunanetra di Indonesia memang jarang terlihat berinteraksi dengan laptop, hilangnya fungsi penglihatan tentunya akan membuat orang-orang bertanya-tanya, "Bagaimana mereka bisa mengoperasikan komputer kalau tidak bisa melihat layarnya?"

Nah, aku ingin sekali bisa menjawab, "ini buktinya" saat Asus EEE PC berada di tanganku. Ingin rasanya kutunjukkan tari-temari jari-jemariku yang terbiasa mengetik 50 kata dalam satu menit di atas keyboard laptop, yang kemungkinan akan lebih cepat lagi di atas Asus EEE PC, mengingat desain keyboardnya yang sangat ergonomis (penulis pernah merabanya di sebuah pameran bulan November 2007 lalu). Wah, pasti seru dan gaya!

Bagaimana bisa? Jawabannya ada di poin kedua!

2. Belajar Linux

Selama ini, aku (tunanetra-red) sudah terbiasa mengoperasikan komputer atau laptop dengan menggunakan program pembaca layar, yaitu jenis aplikasi yang dapat mengubah teks yang tampil di monitor menjadi suara. Jadi, aku bukannya membaca, melainkan mendengar teks-teks menu, e-mail, atau aplikasi, yang semuanya dibacakan oleh pembaca layar!

Selama ini, aku menggunakan sistem operasi Windows XP dan beberapa distro Linux yang sudah dilengkapi pembaca layar. Nah, aku penasaran ingin menjajal Xandros Linux, sistem operasi yang dibenamkan di dalam Asus EEE PC. Mengingat aplikasi bawaannya sudah tergolong lengkap (pengolah kata, browser, multimedia, dan chat client), maka aku -- dan pengguna tunanetra lainnya barangkali -- akan sangat dimanjakan apabila ada pembaca layar yang mendukung Xandros Linux. Jadi, tak perlu repot install aplikasi lagi untuk semua kebutuhan!

3. Sosialisasi Laptop Untuk Tunanetra

Bicara soal yang satu ini, sebenarnya sudah tergagas sejak lama olehku, dan aku yakin bahwa banyak rekan-rekan tunanetra yang ingin memiliki laptop dan belajar ilmu komputer. Sayangnya, harga laptop yang beredar di pasaran masih terlampau mahal, sehingga agak sulit terjangkau.

Nah, kalau aku punya Asus EEE PC, maka proyek sosialisasi laptop untuk tunanetra dapat lebih mudah aku jalankan. Kenapa? Selain harganya yang jauh lebih murah dan ukurannya yang lebih pas untuk bermobilitas dengan tunanetra, spesifikasi teknis Asus EEE PC sudah lebih dari cukup untuk tunanetra belajar mengetik, berselancar di internet, telepon via Skype, bahkan nge-blog seperti aku!

So, itu semua tak akan terwujud sebelum sang laptop idaman ada dalam pangkuanku!

Jadi, sampai jumpa Asus EEE PC! Tak lama lagi, aku akan segera ber-EEE denganmu!