EDUCATION HISTORY
TK DAN OBSERVASI
Pada sekitar tahun 1985, saya mulai bersekolah di sebuah TK di kota
Semarang. Karena cacat penglihatan yang saya derita, maka saya harus
pindah ke sebuah
TK luar biasa di kota yang sama.
Setelah pindah ke Jakarta, saya masuk ke sebuah TK umum (TK Mekar
Indah) yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah. Di TK inilah,
saya belajar sedikit
mengenai tulisan latin, huruf dan angka. Hasilnya, sekarang saya
dapat membaca/menulis huruf latin meskipun hanya untuk huruf capital
saja.
Pada tahun 1987, salah seorang kenalan orangtua saya memberi
informasi mengenai sebuah sekolah luar biasa yang khusus
diperuntukkan bagi penyandang cacat
seperti saya. Tanpa pikir panjang, mereka langsung membawa saya ke
sebuah SLB di kawasan Lebak Bulus - Jakarta Selatan. Mulanya saya
dititipkan di asrama
penyandang cacat Tunanetra – Tan Miyat, namun karena usia yang masih
terlalu kecil untuk dapat hidup mandiri, maka orangtua memutuskan
untuk menunda niat
itu. Akhirnya, saya resmi masuk sebagai murid SLB/A Pembina Tingkat
Nasional.
Ketika masuk menjadi murid TK SLB/A PTN, saya diasuh oleh seorang
guru bernama Ibu Lilis. Beliaulah yang kemudian mengajarkan saya
bagaimana membaca dan
menulis dalam huruf Braille, sebuah system baca tulis yang digunakan
oleh penyandang Tunanetra. Selanjutnya, saya tinggal bersama Ibu
Lilis di rumahnya
dan belajar lebih banyak lagi. Karena orangtua masih belum tega,
terkadang saya dijemput dan dibawa pulang setiap satu hari, padahal
mereka sepakat untuk
menjemput saya tiap seminggu sekali.
SD: SLB/A Pembina Tingkat Nasional
Setelah itu, saya masuk ke asrama SLB/A PTN dan mulai menjalani
pendidikan di tingkat dasar yang setara SD. Dalam jangka waktu enam
tahun, saya telah belajar
banyak dalam hal kemandirian, misalnya mandi, membereskan pakaian,
menyapu, mencuci, membersihkan halaman dan bahkan menahan lapar
kalau persediaan makanan
dan uang saku sudah habis. Di asrama, saya juga banyak mendapat
kawan baru dan belajar memahami berbagai karakter. Hasilnya, kami
bersatu dan menjadi teman
asrama yang kompak, meskipun terkadang masih suka bertengkar atau
berselisih paham.
Kepala asrama pada saat itu adalah Pak Tarno, salah satu guru di
SLB/A dan Bu Tati, pendidik di SLB bagian C (Tunagrahita). Meskipun
mereka terkesan galak
dan sering marah-marah, tapi sebenarnya mereka sangat baik. Bersama
anak-anak asrama, beliau bahkan ikut melaksanakan kegiatan rutin,
seperti makan bersama,
shalat dan bahkan kerja bakti. Pada tahun 1993, masa tugas mereka
berakhir dan keduanya pindah ke Ciamis. Kabar terakhir yang saya
terima: Akibat stress
yang dideritanya, Pak Tarno lumpuh dan sulit berbicara.
SMP: SMP Negeri 226 – JAKARTA
Akhirnya saya berhasil menyelesaikan pendidikan di tingkat dasar.
Di saat itulah, timbul impian dan keinginan: Seandainya saya bisa
bersekolah di sekolah
umum… Atas dasar itulah, orangtua dan guru-guru di SLB/A berjuang
untuk mewujudkan keinginan itu. Hal pertama kali yang dilakukan
adalah melalui jalan
diplomasi, yaitu dengan menghubungi Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan untuk meminta SK yang menyatakan bahwa penyandang cacat
Tunanetra mampu bersekolah
di sekolah normal. Yang menarik disini adalah ketika Bapak sampai
harus bertengkar dengan kepala sekolah SMU 70 (Rayon sekolah yang
dituju) untuk mempertahankan
bahwa saya mampu bersekolah di sekolah umum. “Bisa!”, itulah jawaban
yang diberikan Bapak ketika Pak Kepala Sekolah meragukan kemampuan
saya. Akhirnya,
saya diterima di SMPN 226 yang letaknya sekitar 1 kilo dari sekolah
awal.
Sebelum masuk ke proses pendidikan, siswa-siswi baru diharuskan
mengikuti Penataran P4 selama seminggu. Meskipun memiliki rasa
percaya diri yang tinggi,
berhadapan dengan lebih dari 400 siswa baru tanpa seorang teman
adalah hal yang sangat mendebarkan. Kepala Sekolah kemudian
mengumumkan pembagian ruang
penataran, dan di saat itulah saya merasa sangat bingung: Di mana
dan ke mana saya harus pergi? Di saat itulah saya mendapat kenalan
pertama, seorang siswi
bernama Sandra yang kemudian membawa saya ke ruangan penataran (ternyata
dia rekan satu kelompok). Selanjutnya, ia mengenalkan saya pada
teman-teman yang
lain, mulai rekan satu kelompok hingga teman-teman dari ruangan
lain. 1 jadi 10, 10 bertambah 20, 30, 40, hingga seminggu kemudian,
saya sudah mempunyai
banyak teman. Puji syukur ke hadirat Allah, karena pada akhirnya
saya berhasil meraih peringkat 7 dari sekitar 500 siswa dalam ujian
Penataran P4.
Akhirnya, saya resmi diterima sebagai murid SMP 226. Pendidikan
dijalani seperti biasa, hanya saja ada beberapa pengecualian. Karena
cacat yang saya derita,
maka beberapa pelajaran memerlukan perhatian khusus. Contohnya,
untuk pelajaran IPA dan Fisika, saya tidak dapat mengikutinya dengan
baik karena tidak
dapat melihat, jadi guru mata pelajaran yang bersangkutan bekerja
sama dengan pihak SLB/A untuk memberi model pendidikan terpadu.
Untuk mata pelajaran
yang lain, saya dibantu oleh Bapak yang merekam semua buku pelajaran
ke dalam kaset (sering merekam hingga larut malam dan bersin-bersin),
sementara Ibu
membantu dengan do’a dan dukungan moril.
Adapun guru SLB/A yang ditunjuk sebagai mediator dalam proses
pendidikan terpadu ini adalah Ibu Tita. Beliau membantu saya pada
saat proses belajar mengajar,
seperti membacakan buku pelajaran, membacakan/menuliskan pada saat
ujian atau ulangan umum dan membantu menyelesaikan permasalahan
dalam kegiatan belajar
mengajar.
Mau tahu mata pelajaran yang saya benci? Selain Matematika, bahasa
Inggris juga merupakan mata pelajaran di raport yang memiliki nilai
rendah. Entah kenapa,
rasanya berat sekali untuk dapat menguasai kedua mata pelajaran itu.
Setelah tiga tahun, akhirnya saya berhasil lulus dari SMP 226
JAKARTA. Banyak sekali kenangan yang saya peroleh, mulai dari yang
baik sampai yang buruk.
Saya pernah mempunyai sahabat cukup banyak, tapi juga pernah
dimusuhi. Saya pernah berpacaran, tapi pernah juga ditolak. Saya
pernah memperoleh nilai tinggi,
tapi pernah juga jatuh hingga nilai terendah. Semua itu akan selalu
saya ingat sampai kapanpun, karena inilah awal mula proses
pendidikan terpadu yang
saya jalani.
SMA: MADRASAH ALIYAH NEGERI 11 JAKARTA
Karena ingin menimba ilmu agama yang lebih banyak, saya memutuskan
untuk masuk ke sebuah madrasah yang letaknya juga tidak terlalu jauh
dari asrama. Selain
itu, sudah banyak senior Tunanetra yang bersekolah disana, jadi
guru-guru sudah lebih memahami jalur pendidikan kami.
Mengaji, memahami terjemahan Al-Qur’an dan belajar berbagai ilmu
agama lain menjadi bagian wajib di sekolah ini.
Disini, peran Bapak dan Ibu masih sangat dominant, terutama dalam
perekaman buku-buku pelajaran dan materi sekolah lainnya. Selain
itu, saya juga dibantu
oleh Yayasan Mitra Netra, sebuah lembaga yang membantu proses
pendidikan penyandang Tunanetra dengan memberikan fasilitas
penunjang belajar, seperti menyediakan
pembaca, perpustakaan Braille dan rekaman buku-buku pelajaran.
Tiga tahun berlalu, dan akhirnya saya lulus…
KULIAH: UNIVERSITAS DARMA PERSADA – JAKARTA
Setelah kurang lebih 13 tahun tinggal di rumah. Awalnya saya
mencoba mengikuti UMPTN, namun gagal karena salah langkah dalam
menentukan jurusan (Memilih
Hubungan Internasional). Setelah itu, saya mencoba mendaftar ke
Universitas Darma Persada dan memilih jurusan Sastra Inggris S1.
Yang menarik disini adalah
ketika coordinator penerimaan mahasiswa baru, Bapak Agus dari
fakultas Teknik ingin mengembalikan uang pendaftaran saya dengan
alas an: Universitas tidak
memiliki/menyediakan sarana penunjang bagi Tunanetra. Mendengar itu,
Bapak dan Ibu bersikeras untuk terus maju. Akhirnya, saya bersama
Bapak menemui Kepala
Jurusan Inggris, Ibu Albertien M. Setelah melakukan konfirmasi,
akhirnya saya diijinkan mengikuti tes masuk dan berhasil diterima
sebagai mahasiswa baru.
