LOVER & SOULMATE
Nama-nama yang tercantum di bawah ini bukan
berarti orang yang pernah menjadi pacar Aurora, tapi mereka yang
pernah mengguratkan kesan di hati Aurora. Di
antara mereka memang ada yang pernah menjadi pacar Aurora.
*> Putria Charanita Petrasari
16 Februari 1999 adalah awal mula pertemuan kami. Ternyata gadis
yang biasa dipanggil Chara ini adalah rekan di kesatuan remaja
masjid di daerah tempat
tinggal saya. Sore itu, ketika remaja masjid tengah menyiapkan
hidangan berbuka puasa, saya mendengar suara Chara yang begitu halus.
Diam-diam, saya bertanya
pada Nova (dalam bahasa Inggris), siapa nama gadis itu. Tiba-tiba
Chara yang mendengarnya menyahut, “Why don’t you ask me? I am Chara.
Nice to know you.”.
Apa? Jadi dia mahir berbahasa Inggris?
Akhirnya kami berkenalan dan barulah saya tahu kalau dia pernah
tinggal di Australia selama dua tahun. Si hitam manis yang sedikit
pemalas ini dalam waktu
singkat telah menjadi teman akrabku. Kami sering berbincang-bincang
lewat telepon, dan herannya, sampai saat ini Chara baru satu kali
menelepon.
Akhirnya, saya menyadari bahwa saya menyukainya. Namun ternyata dia
sudah mempunyai seorang pacar. Tak masalah! Karena, Chara adalah
orang pertama yang
memberikan penolakan paling halus dan menawarkan diri untuk menjadi
sahabat. Obsesi tentang gadis pintar yang bijaksana dan mandiri itu
terus melekat,
hingga babak baru di hati Aurora dibuka.
*> Neneng Hasanah
Dia adalah teman baik saya semasa SMU. Orangnya periang dan murah
senyum. Dia juga juara kelas dan sangat pandai. Kembali, saya harus
menerima kenyataan
bahwa salah seorang teman saya yang bernama Mukti Ali sangat
menyukainya, jadi harus mengalah. Tapi, saya merasa cukup puas
karena akhirnya bisa keluar
sebagai pemenang. Hari itu, tepat saat hari perpisahan sekolah,
neneng menerima saya menjadi pacarnya, meskipun hanya untuk satu
hari.
*> Purdey Mustikawati
Ketika masuk kuliah, saya mengikuti acara JAMBORE yang diadakan
oleh kelompok pecinta alam di kampus. Disanalah saya berkenalan
dengan Purdey. Ternyata
kami sangat cocok satu sama lain! Itu terbukti ketika kami
menghabiskan lebih dari tiga jam untuk saling bertukar cerita. Sial!
Pada saat hendak membayar
minuman Purdey, saya mendengar salah seorang teman bertanya pada
Purdey, “Eh, Pur! Elo udah punya pacar blon sih?”, dan dijawab “Mmm,,,
Udah!”. APA!?!?!?
Tapi itu tidak menghalangi niatku untuk terus maju.
Akhirnya, saya dan Purdey menjadi teman akrab. Hampir 90% pulsa
teleponku habis hanya untuk
menelepon gadis yang saya beri julukan Sweet Heroine. Begitulah!
Lewat telepon dan e-mail, kami jadi makin dekat. Saya bahkan pernah
beberapa kali pergi
bersama keluarga dan teman-teman Purdey ke Mall atau tempat-tempat
menarik lainnya. Disana, saya menemukan bahwa Purdey tidak peduli
dengan kondisi fisik
yang ada pada diri saya. Dengan penuh perhatian, ia menuntun dan
menjaga agar saya tidak terjatuh atau bertabrakan dengan orang lain.
Semuanya terus seperti itu, hingga hari itu tiba. Hari
dimana saya harus kehilangan Purdey Mustikawati, seorang sahabat
yang baik. Saya menyadari
bahwa semua itu adalah kesalahan saya, dan tidak seharusnya saya
memaksakan diri dan menuntut apapun dari seorang gadis yang sudah
mempunyai seorang pacar.
Sebagai akibatnya, saya harus kehilangan seorang sahabat, Purdey.
Dia tak mau lagi bicara, bahkan sampai saat dokumen ini dibuat.
Meskipun itu terasa tak adil untuk saya, tapi saya coba
menerimanya. Mungkin Allah memang tidak atau belum berkehendak Sweet
Heroine menjadi
relasi saya. Biarpun demikian, nama Purdey dan kenangannya akan
selalu diingat (Game Chrono Trigger dan konsep cerita Sweet Heroine
yang saya buat).
*> Kusmiati
Dia adalah teman dari sahabat saya di kampus. Gadis tomboy yang
lebih suka dipanggil Mia ini untuk pertama kalinya datang ke rumah
saya pada hari ulang
tahun saya, 3 Februari 2001. Setelah beberapa bulan berkawan, kami
memutuskan untuk berpacaran.
Ada banyak peristiwa yang terjadi, termasuk adu fisik,
adu debat dan pertengkaran. Banyak pula kejadian manis yang kami
lalui. Sayangnya, orangtua
dan keluarga Mia masih belum bisa menerima keberadaan saya sebagai
seorang Tunanetra, jadi hubungan kami harus berakhir.
Jahat atau baik, saya masih belum bisa menentukan siapa
Mia, gadis yang saya beri panggilan Lufia itu, mengingat banyak
dualisme dalam dirinya.
Yang jelas, saya masih sangat menyayanginya dan apabila Allah
berkenan memilih dia sebagai pasangan hidup, Insya Allah saya
menerimanya.
Perlu diingat! Meskipun Mia orangnya keras kepala,
menyebalkan, urakan dan berisik, tapi dia hangat dan penuh perhatian.
Meskipun dia tukang
bohong dan sering menipu, tapi dia selalu jujur dalam mengungkapkan
semua perasaan hatinya.
*> Femmy Karima
Femmy adalah seorang penyiar di salah satu stasiun radio local di
kota Palembang. Saya mengenalnya ketika dia menelepon di acara Happy
Hour di radio Smart
FM Jakarta (Pada saat itu, saya menjadi bintang tamu). Setelah
meminta alamat e-mail, Femmy kemudian menjadi sobat e-mail terbaik
dengan jumlah pengiriman
e-mail paling banyak.
Entah kenapa, tapi rasanya sangat menyenangkan dapat ber-e-mail
dengannya. Panggilan akrabnya adalah Princess of Frog, dan dia
memanggil saya
Prince of Frog. Ini, bahkan jauh lebih mengasyikkan dan menyenangkan
daripada pengalaman sebelumnya.
*> Rani Ariefanti
Berawal dari salah kirim SMS, saya berkenalan dengan Rani, gadis
yang tinggal di Bandung. Singkat cerita, kita jadi akrab dan sering
berkirim SMS. Pada
tanggal 14 Oktober 2004 kita bertemu di Bandung dan...panggilan Cho
Chang sebagai tanda sayang itupun jadi miliknya...
*> Winanda Putri Haksari
Nanda, begitu aku memanggilnya, adalah seorang gadis berjilbab asal
Magelang yang mengenal saya lewat sebuah mailing list. Tertarik
karena kemampuannya
di bidang programming, kami pun menjadi akrab dan menjalin hubungan.
Banyak sekali pengalaman rohani yang saya alami selama berhubungan
dengannya. Sayang, kedua orangtua Nanda tidak menyetujui hubungan
kami dan kami pun kembali
menjadi teman biasa...
*> Yulia
Untuk pertama kali saya mengenalnya via Yahoo! Messenger (Mei
2005), ketika saya masih aktif menjadi jurnalis di mitranetra.or.id.
Kala itu saya
sangat aktif melakukan chat di chatroom.
Kami jadi dekat lantaran ID kami (rama_himura dan yuka_inuyasha)
berbau anime (animasi Jepang). Selanjutnya, saya memanggil Yulia
Kagome, sementara ia memanggil
saya Inuyasha (dua karakter dalam anime Inuyasha).
Yulia sendiri adalah putri kedua lima bersaudara. Keadaan
keluarganya yang kurang mampu membuatnya harus tinggal di rumah
orangtua angkat yang pun ternyata
kurang memperhatikannya. Sekitar awal 2006, akhirnya Yulia pulang
kembali ke rumahnya, dan keluarga saya berusaha untuk membantu biaya
sekolah gadis yang
(saat artikel ini ditulis) masih duduk di bangku SMK.
Awalnya sangat sulit bagi saya untuk meyakinkan keluarga, pasalnya
perbedaan usia kami yang cukup jauh (sekitar 6 tahun) membuat
keluarga berpikir akan
kedewasaan dan cara berpikir Yulia. Namun, setelah melewati
perjuangan keras, akhirnya kedua orangtua saya malah menganggapnya
seperti anak sendiri.
Yulia adalah wanita yang paling feminin dan penurut serta setia yang
pernah saya jumpai. Kejujuran menjadi andalan gadis yang agak usil
dan senang berpose
di depan kamera ini...
